INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (4/11) Rupiah dibuka pada level 9.600 atau melemah 15 poin dibandingkan penutupan kemarin pada level 9.585.
Hal itu disampaikan analis valas Bank Mutiara Frans Darwin Sinurat, Rabu (4/11).
"Mata uang dolar AS menguat terhadap mata uang asing lain termasuk Rupiah, sehingga Rupiah mengalami melemah," kata Frans.
Ia mengatakan, pelaku pasar akan menunggu hasil Rapat Bank Sentral AS malam ini. Ada kemungkinan suku bunga tetap 0%. Hal ini
membuat pelaku pasar ragu krisis ekonomi AS belum selesai walaupun GDP AS naik 3%. Selain itu Dow Jones negatif berimbas pada bursa saham Asia termasuk Indonesia. Pelaku pasar melihat ada capital outflow dan cenderung membeli dolar AS. "Rapat Dewan Gubernur BI pun akan ditunggu oleh pelaku pasar karena menunggu kebijakan moneter dan BI Rate," tambah Frans.
Pengamat valas PT Intregal Investama, Tony Mariano mengatakan Rupiah cenderung melemah karena pelaku pasar masih ragu melihat kondisi ekonomi global. Selain itu faktor dari dalam negeri yaitu kasus KPK dan Polri membuat pelaku pasar menahan dolar AS. "Faktor eksternal lebih dominan dalam pelemahan Rupiah karena pelaku pasar masih ragu terutama melihat kondisi ekonomi global," kata Tony, saat dihubungi INILAH.COM, Rabu (4/11).
Ia mengatakan kasus KPK dengan Polri pun membuat pelaku pasar melihat adanya ketidakpastian politik sehingga enggan untuk menjual dolar AS. Kasus KPK dengan polri ini
mempengaruhi pelemahan Rupiah. Padahal dari sisi fundamental perekonomian Indonesia tidak ada masalah. Bank Indonesia diprediksikan akan tetap mempertahankan Rupiah.
Ia meramal Rupiah bergerak di level 9.550-9.630. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !