INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (5/11) diperkirakan berpotensi menguat. Namun, masih ada potensi koreksi dari beberapa data ekonomi AS yang dirilis.
Andri Zakarias, pengamat valas dari Harum Dana Berjangka memprediksikan, rupiah masih berpeluang menguat, karena pergerakan dolar atas mata uang lain yang mixed. Rupiah pun akan bergerak terbatas di level 9.500-9.700 per dolar AS, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.
Pasar masih mencermati beberapa data-data ekonomi AS, seperti hasil FOMC The Fed yang cenderung mensinyalkan naiknya risk apetite. Apalagi jika FOMC mempertahankan kebijakan pembelian mortgage, yang menunjukkan bahwa perekonomian AS masih rapuh.
Hal ini akan memicu sentimen negatif pada mata uang AS itu. Rupiah pun berpeluang menguat, ujarnya. Selain itu, data pengangguran AS Oktober juga diperkirakan naik hingga 10%. Kondisi ini menimbulkan risk aversion sehingga dolar pun tertekan, ucapnya.
Sementara data payroll AS yang dirilis Jumat besok, diekspektasikan akan menunjukkan peningkatan. Dolar pun berpotensi berbalik arah menguat. Ini menyebabkan penguatan rupiah tertahan atau cenderung konsolidasi, ujarnya.
Kondisi ini merupakan dua reaksi yang berbeda sehingga dolar akan diperdagangkan mixed. Sementara rupiah masih memainkan isu domestik, dengan naik tipis karena BI mempertahankan suku bunga dan angka inflasi rendah. Kondisi ini masih terus berlangsung hingga akhir tahun.
Sehingga suku bunga BI takkan banyak berubah juga, pungkasnya. Nilai tukar rupiah di pasar spot valas antar bank pada Rabu (4/11) menguat di 9.525 per dolar AS. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !