Minggu, 27 Mei 2012 | 08:43 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Hindari Risiko
BBCA, Jual Selagi Menawan
Headline
inilah.com /Dokumen
Oleh: Bastaman
web - Kamis, 5 November 2009 | 10:33 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Pantas kalau BI terus berkoar agar perbankan meningkatkan fungsi intermediasinya. Soalnya, para bankir tampaknya masih enggan mengucurkan kreditnya.
Alasannya, selain takut terperangkap kredit macet, toh tanpa memberi pinjaman pun mereka bisa membukukan keuntungan besar. Buktinya, lihat saja PT Bank Central Asia (BBCA). Dari kuartal I hingga kuartal II 2009, bank warisan Liem Sioe Liong ini nyaris tidak mengucurkan kredit baru.
Memang, di kuartal III, ada kredit baru Rp 5,4 triliun sehingga totalnya menjadi Rp 112,7 triliun atau mengalami kenaikan 6,8% dibanding periode yang sama 2008. Namun, kendati kreditnya hanya tumbuh 6,8%, bank yang dikendalikan konsorsium Farallon Capital Management LLC ini berhasil membukukan laba bersih Rp 5,1 triliun atau tumbuh 27,3% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Salah satu yang mendongkrak laba bank adalah pendapatan operasional yang mengalami kenaikan 29,4% menjadi Rp 14,4 triliun. Nah, sekitar 74% dari pendapatan operasional itu merupakan sumbangan dari pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp 10,6 triliun.
Namun yang cukup mengejutkan, kredit masalah BCA mengalami kenaikan hampir dua kali lipat menjadi 1,3%. Namun demikian, pencadangan yang disediakan untuk menutup kredit bermasalah (NPL) masih cukup tinggi, yakni tiga kali lipat.
Para analis memperkirakan, kinerja BCA tetap cantik hingga akhir 2009. Kredit dan dana pihak ketiga, misalnya, masing-masing diperkirakan tumbuh 6,9% dan 18%. Lalu imbal kredit diasumsikan mencapai 9,5%, sedangkan biaya dana pihak ketiga hanya 3,5%.
Dengan asumsi pendapatan fee dan biaya operasional tumbuh sebesar 25% dan 13,6%, maka laba bersih BCA tahun ini diperkirakan tumbuh 19,3% menjadi Rp6,9 triliun.
Dengan gambaran fundamental seperti itu, bank berkode BBCA ini terbilang cukup sehat. Namun, pergerakan saham BCA sepertinya sudah mencapai peak performance-nya.
Pada perdagangan saham Rabu (4/11), BBCA ditutup di level Rp4.600. Bisa saja sahamnya menguat lagi ke Rp4.650 atau lebih. Tetapi, untuk amannya, seorang analis dari Kresna Securities merekomendasikan ambil untung agar terhindar dari risiko penurunan harga. Sebab, menurut perhitungannya, harga wajar saham BBCA saat ini adalah Rp4.524,27 per saham. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.