INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan Kamis (5/11) rupiah dibuka pada level 9.475 atau menguat 35 poin dibandingkan penutupan kemarin pada level 9.510.
Hal itu disampaikan analis valas Bank Mutiara Frans DArwin Sinurat, saat dihubungi INILAH.COM, Kamis (5/11). The Fed tetap mempertahankan suku bunga dan akan membeli kredit macet hingga kuartal pertama 2010. Hal ini mempengaruhi rupiah. "Rupiah mengalami penguatan karena pelaku pasar melihat The Fed konsentrasi untuk atasi krisis secara global," kata Frans.
Lebih lanjut ia mengatakan, pelaku pasar pun secara perlahan akan membeli mata uang lain dan menjual mata uang doalr AS, selain itu berinvestasi di Asia sehingga saham-saham Asia menguat.
Sedangkan faktor dalam negeri seperti perseteruan KPK dengan Polri, menurut Frans, tidak terlalu mempengaruhi tetapi faktor eksternal lebih dominan mempengaruhi rupiah.
Hal yang sama diungkapkan pengamat valas PT Integral Investama, Tony Mariano mengatakan rupiah menguat terbatas. Hal ini dkarenakan The Fed mempertahankan suku bunga itu menguntungkan Rupiah.
Tapi, persoalan perseteruan antara KPK dengan Polri bisa mempengaruhi pelaku pasar melihat kondisi hukum di Indonesia. "Persoalan KPK dengan Polri bisa menjadi momok buat rupiah, karena pelaku pasar global membutuhkan kepastian proses penyelesaian hukum sebelum meningkatkan investasi di Indonesia," tutur Tony, saat dihubungi INILAH.COM, Kamis (5/11).
Selain itu, pelaku pasar global akan menunggu hasil rapat Bank Sentral Eropa dan Inggris. Dolar AS yang masih melemah terhadap mata uang asing termasuk rupiah sehingga ada peluang Rupiah menguat. Tony meramal rupiah bergerak di level 9.480-9.530. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !