INILAH.COM, Suva Aksi saling usir diplomat terus terjadi antara Australia dan Fiji sejak awal pekan ini. Seorang ilmuwan Australia diperintahkan meninggalkan Fiji setelah ditahan karena wawancara dengan media.
Brij Lal, seorang ahli politik Fiji pada Universitas Nasional Australia, Canberra, akhirnya meninggalkan Fiji menuju Sydney, Kamis (5/11) pagi ini waktu setempat. Lal yang sering mengunjungi Fiji ditahan ketika negara itu mengusir utusan-utusan Australia dan Selandia Baru, yang menimbulkan balasan serupa dari Canberra dan Wellington.
Saya berada dalam tahanan selama satu jam dan diperiksa dan diberitahu agar meninggalkan negara itu dalam waktu 24 jam, kata Lal kepada Radio Australia ABC. Lal mengatakan ini pertama kali ia ditahan oleh militer Fiji, yang menggulingkan pemerintah terpilih dalam kudeta Desember 2006 dan terlibat dalam tiga kudeta lainnya dalam dua dasawarsa belakangan ini.
Ini mengungkapkan kepada anda tentang keadaan Fiji sekarang, katanya dan menambahkan tidak ada kebebasan berbicara. Lal tidak tanda-tanda kekuasaan Voreqe Bainimarama akan berakhir karena militer secara efektif menguasai pelayanan publik, birokrasi dan pengadilan.
Bainimarama yang baru saja diangkat presiden negara kepulauan Pasifik itu berencana menyelenggarakan pemilu September 2014 setelah mereformasi sistem pemilihan dan membentuk satu konstitusi baru untuk menggantikan UUD yang ia batalkan April lalu.
Keanggotaan Fiji dalam Forum Pulau-Pulau Pasifik yang beranggotakan 16 negara langsung ditangguhkan pada Mei dan dari Persemakmuran pada September lalu karena melanggar janji-janji untuk menyelenggarakan pemilu Maret tahun ini.
Australia dan Selandia Baru berada digaris depan pengecaman internasional terhadap rezim Bainimarama dan sanksi-sanksi kunjungan mereka terhadap orang yang bersekongkol dengan rezim itu memicu pengusiran utusan-utusan mereka dari Suva. [*/vin]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !