Minggu, 27 Mei 2012 | 02:17 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Revolusi Facebook
Headline
Oleh: M. Ichsan Loulembah
web - Kamis, 5 November 2009 | 15:28 WIB
AKHIRNYA politik menemukan jalannya. Politik sebagai kegiatan pemilihan umum semata, satu soal. Politik dalam pengelolaan pemerintahan sehari-hari, soal lain. Itulah yang terbuktikan dalam hari-hari belakangan ini.

Gelombang dukungan yang terbangun lewat berbagai diskusi komunitas, debat televisi dan radio, berita dan opini di media massa menggumpal ke ujungnya: sebuah gerakan massal.
Coba simak daftar berikut ini: Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto, Dukungan Nusantara Untuk Bibit dan Chandra, Sejuta Facebookers Dukung Bebaskan Bibit-Chandra, Dukung Peradilan Bersih Ungkap Kasus Bibit-Chandra, Ayo Facebookers Dukung Pembebasan Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto, Selamatkan KPK!!!
Judul-judul di atas bukan nama organisasi kemasyarakatan atau gerakan di dunia nyata. Itu sebagian dari cyber groups (semacam pengelompokan atau komunitas) yang ada di dunia maya; khususnya Facebook (FB).
Dengan jumlah anggota bervariasi, namun grup yang paling fenomenal adalah Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto. Saat kolom ini ditulis (05/11/09) jumlah anggotanya mencapai 853.005.
Entah berapa yang ada di situs jaringan sosial lain. Namun, dari situs social network kreasi Mark Zuckerberg inilah gerakan masyarakat mendukung KPK menggelombang.
Dan ini adalah era baru. Gerakan masyarakat berhulu di dunia maya.
Dulu gerakan masyarakat digarap lewat interaksi langsung dan rapat-rapat politik yang ditemani singkong, kacang rebus, pisang goreng, dan kopi kental serta asap rokok kretek mengapung. Kini, konsolidasi ketidaksetujuan masyarakat diselenggarakan lewat conference call, mailing list, lalulintas short messages dan chatting dengan aneka messenger. Croissant, pizza, capuccino, atau aneka smoothies serta cigar telah mengambilalih singkong dan sejawatnya menemani cyber meeting para aktivis.
Mengapa orang dengan jumlah kurang dari 1% penduduk atau pemilih dalam pemilu harus dianggap penting? Mengapa gerakan orang-orang kota dan anak-anak sekolahan itu bertenaga? Bukankah pada pilpres lalu pasangan SBY-Boediono dipilih 73.874.562 atau 60,80% suara?
Politik memang tidak hanya hadir dalam satu muka. Politik juga bukan sekadar keputusan di bilik suara semata. Pun, politik tidak hanya diamati saat penggarapan dan rayuan pada pemilih. Terakhir, politik bagi kita semua lebih dinanti pada pada pembuktian, dibanding pemberian janji-janji kampanye.
Hari-hari belakangan ini, itulah yang ingin dikatakan para penggerak, pendukung, dan penjamin bagi kebebasan Chandra Hamzah dan Bibit Riyanto. Walaupun berintikan kelas menengah kota, namun mereka datang dari delapan penjuru mata angin ideologis, suku, agama, warna kulit, pekerjaan, dan pendapatan.
Mereka adalah puncak dari gunung es yang mewakili keseluruhan pemilih untuk membantu mengingatkan pemegang kekuasaan. Karena kekuasaan adalah mandat yang diberikan pemilih, amat mafhum jika wakil-wakil pemilih itu menanyakannya. Jika perlu dengan teriakan yang keras.
Ketidakstabilan kekuasaan Thaksin Sinawatra yang didukung pemilih populer karena program-program populisnya, juga ditekuk oleh gerakan semacam ini. Ini pula yang menggerakkan Revolusi EDSA (Epifanio de los Santos Avenue) yang digerakkan dari bilik-bilik kerja berpendingin orang-orang di Distrik Makati, Manila.
Itulah pelajaran dari Revolusi Facebook (pakai tanda kutip) beberapa hari-hari belakangan ini.
Jika kemenangan pada hari pemilu ditentukan dari bilik-bilik suara. Pengelolaan kekuasaan atas kemenangan itu akan dipantau dari balik meja kerja kelas menengah. Dan, bilik-bilik warnet.

Pemimpin Umum Majalah DEWAN dan pendiri SIGI Indonesia [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.