INILAH.COM, Jakarta - Kabar yang ditunggu-tungu pelaku pasar itu akhirnya muncul juga. Rapat Federal Open Market Committee (FOM) memutuskan untuk mempertahankan Fed Fund Rate di level 0,5%. Di saat yang hampir bersamaan, Rapat Dewan Gubernur BI juga tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di tingkat 6,5%. Dampak kebijakan bank sentral Amerika (The Fed) itu cukup manjur. Bursa New York, yang semula loyo, mulai memperlihatkan ototnya. Kemarin, indeks Dow menguat 30,23 poin (0,31%) ke level 9.802,14.
Tapi sayang, efek positif itu tak berpengaruh tergadap bursa di Asia Pasifik. Indeks Nikkei, misalnya, anjlok 1,29% ke level 9.717,44. Sementara Hang Seng dan Straits Times masing-masing turun 0,63% dan 0,61%.
Penurunan juga terjadi di Jakarta. Pada penutupan Kamis (5/11), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 4,64 poin (0,2%) ke level 2.367,21. Seorang broker asing mengatakan, perbedaan tingkat suku bunga (interest differential) yang masih cukup tinggi, yakni sekitar 6%, membuat pelaku pasar tetap mempertahankan investasinya di surat-surat berharga dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang memberikan pendapatan tinggi.
Di samping itu, Fed Fund Rate yang tetap rendah dikhawatirkan akan membuat kurs dolar melemah terhadap mata uang kuat dunia lainnya. Faktor ini mesti diantisipasi, karena melemahnya dolar akan berdampak terhadap semakin murahnya aset-aset dolar, kata seorang analis.
Bukan tak mungkin, lanjutnya, pemodal akan menubruk saham-saham di New York seperti Apple Inc, McDonalds, Eli Lilly, Yahoo, Ford Motor dan lainnya.
Sejumlah bursa dunia diperkirakan akan semakin tertekan seandainya perusahaan-perusahaan di Amerika tersebut dapat mempertahankan kinerjanya yang lumayan baik pada kuartal IV 2009.
Hal itu tentu akan mengurangi bobot portofolio di
emerging market, kata analis tadi. Kalau sudah begitu, lantas apa yang perlu dilakukan para investor? Ia memperkirakan kondisi bursa dalam beberapa hari ke depan masih akan tertekan.
Namun demikian, peluang meraih gain dalam jangka pendek masih cukup terbuka. Untuk mengantisipasi hal tersebut, analis tadi merekomendasikan untuk menaikan bobot atas saham-saham yang bidang usahanya bergubungan dengan mass market.
Di antaranya saham PT Unilever (
UNVR), PT Kalbe Farma (
KLBF), PT Indofood (
INDF), PT Telkom (
TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (
BBRI), PT Jasa Marga (
JSMR), dan PT Astra Internasional (
ASII).
Sedangkan saham-saham yang bobotnya perlu dikurangi adalah PT Medco Energy (
MEDC), PT Bumi Resources (
BUMI), PT Bukit Asam (
PTBA), PT Ciputra Property (
CTRP), PT Bank Mandiri (
BMRI), PT Bank Central Asia (
BBCA), dan PT Bank Danamon (
BDMN). [mdr]