Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
13 Komentar
rusdy @ Rabu, 11 November 2009 | 15:31 WIB
Coba simak puisi karya : Addhie Massardi ttg negeri bedebah, elitenya bergelimpangan harta sementara rakyatnya kelimpungan memenuhi kebutuhan hidupnya, silakan periksa harta kekayaan pejabat dibandingkan dengan gaji yg diterima.
h candra b @ Selasa, 10 November 2009 | 15:45 WIB
masalahnya rakyat sudah muak dengan kinerja POLRI ttg pemberantasan korupsi, POLRI begitu garang ketika menangani masalah yang tidak mungkin bisa mendapat "jatah". Cth kasus soal terorisme, langsng sikat habis...ini memang prestasi, tp kalo sudah masalah korupsi, POLRi seakan tidak punya nyali sedikitpun...
Seharusnya memang ada audit harta kekayaan Petinggi POLRI, pejabat setingkat Kapolres aja hartanya sudah bejibun...kalo lihat penghasilan resmi kok kayaknya mustahil
Ki Ronggo @ Minggu, 8 November 2009 | 02:13 WIB
Jadi apanya yang salah ya? wilayah hukum mau diselesaikan secara politis, disisi lain dilawan dengan penggalangan opini, kan sudah klop..penegak hukumnya tidak dipercaya, politisinya masih angin-anginan, dan rakyatnya nggak tahan muak..
Fachzenil @ Sabtu, 7 November 2009 | 22:57 WIB
IM Sumarsono: Dalam tulisan Anda,ada beberapa kata kuci Anda, seperti "blunder politik facebooker", dan "sebuah keluarga yang tertindas secara psikologis". Dari judulnya, saya sudah tahu kemana arah tulisan Anda itu, yakni mau bela polisi. Di sini, Anda harus jujur juga bahwa seorang maling ayam yang sudah tertangkap misalnya, tak ada hubungannya dengan anaknya yang tengah sakit dan istrinya yang terbaring di kamar dari rumah yang reyot. Pesan/an simpati Anda terhadap Susno Duaji, sangat lemah. Sebaliknya, nada 'tuduhan Anda terhadap sejutaan facebooker juga sama sekali tak beralasan. Anda cenderung mengatakan para facebooker mempunyai kepentingan politik. Mohon, untuk mendatang kiranya Anda dapat menulis lebih baik, logis, dan jujur.
wong ling lung @ Sabtu, 7 November 2009 | 10:57 WIB
Aku Heran, Negara yg besar ini dipimpin orang yang berpendidikan tinggi tapi kok masih bisa diatur oleh monyet merah ya? ( Anggodo adalah monyet merah di tokoh pewayangan ), kasus ini bisa selesai kalo dengan bahasa monyet,
Jadi wajar polisi kejaksaan dan KPK tdk bisa menyelesaikan kasus ini karena tidak bisa memahami bahasa monyet.
Yang bisa meneyelesaikan kasus ini adalah monyet putih ( anoman ) kakaknya Anggodo.
Yang mengikuti lakon Anoman Obong akan tahu siapa Anggodo.
Lutfiel @ Jumat, 6 November 2009 | 15:32 WIB
Hiduplah sesukamu, tapi ingat kau akan mati...
Silahkan berbuat apa saja, rakyat menentukan, nurani rakyat tercabik - cabik. Jika hanya keluarga dan anak, kami sudah terbiasa menderita dan tersiksa!!
Maju terus KPK!!
sigit @ Jumat, 6 November 2009 | 11:59 WIB
Energi semua elemen bangsa sudah tercurah ke kasus KPK Vs Polri dan sudah memasuki arel politik dan kemerosotan kepercayaan pada aparat penegak hukum. Maka jalan keluarnya agar Polisi dan Kejaksaan segera melimpahkan berkas ke Pengadilan yang nantinya akan diawasi & dilihat Rakyat, Tim 8. Bagi yg terbukti bersalah berilah Hukuman setimpal karena sudah berbohong pada rakyat dan Undang-undang.
cacing @ Jumat, 6 November 2009 | 11:41 WIB
tulisan ini apa? mau ngatakan facebooker telah melakukan kesalahan? Mau bela polisi? Emang loe kalao nggak ngalami sendiri bakal percaya betapa bobroknya polisi dan kejaksaan. Lihatlah keluarga buron KPK yg ada di SIngapore, dari dulu kan dah biasa melakukan kejahatan kok malah dibiarin.
Prasetyo @ Jumat, 6 November 2009 | 11:15 WIB
Susno sangat boleh jadi tertekan, istri dan keluarganya juga. Tapi Susno adalah orang paling baru yang menderita karena penanganan kasus hukum yang amburadul
Sebelum dia ada ribuan yang terzalimi oleh polah korps kebanggan Kusno. Dia cuma sedang mendapat giliran, setelah ribuan orang. Sesederhana itu.
Siapa dibalik semua carut marut ini? Bagaimana membereskannya? Kusno lebih tahu, karena dia ada didalam sistem, karena dia yang juga design sistem itu.
himawan @ Jumat, 6 November 2009 | 11:08 WIB
hidup facebooker .
kita ini cuma rakyat kecil , terserah semua pejabat ngomong saya gak salah , demi Tuhan atau apa . di mata rakyat : apaan negara koq dikuasai pencoleng pencoleng. padahal gak semuanya pencoleng jadi ya di cap jelek karena masyarakat menilai.
meskipun cuma rakyat tapi jumlah Kami banyak n
"dalam sejarah gak ada yang selamat kalo melawan arus rakyat , pasti digilas".: saya kutip Dari Pak Mahfud MD. ketua MK.