INILAH.COM, Jakarta - Analis memprediksi, pekan depan Rupiah akan cenderung menguat dengan kisaran level 9.430-9.570.
Hal itu disampaikan senior ekonom Bank Mandiri M. Dody, saat dihubungi INILAH.COM, Sabtu (7/11).
Dody mengatakan, Rupiah akan stabil pekan depan karena Bank Indonesia kuat menjaga volatilitas Rupiah. "Sebenarnya investor masih wait and see penyelesaian krisis ekonomi global, sehingga Rupiah cenderung mengalami volatilitas," ujar Dody.
Investor akan menunggu pengumuman GDP Indonesia pada pertengahan November 2009. "GDP Indonesia ditunggu oleh pelaku pasar, diperkirakan pada kuartal ketiga 2009 mencapai 4,3," tambah Dody.
Sedangkan sentimen global yang mempengaruhi Rupiah kecenderungan aksi profit taking oleh pelaku pasar. Seperti diketahui pada awal pekan November, Rupiah sempat melemah menyentuh level 9.670.
Dody menuturkan, Rupiah mengalami pelemahan karena pengumuman bank CIT bangkrut ditambah pengaruh kasus KPK-Polri. Tetapi perkembangan kasus ini positif sehingga turut mempengaruhi pergerakan Rupiah.
Pada akhir pekan Jumat (6/11) Rupiah ditutup menguat pada level 9.475 atau menguat 0,75% dibandingkan penutupan Jumat (30/10) pada level 9.545.
Dody menjelaskan, sentimen global yang mempengaruhi Rupiah antara lain outlook ekonomi China yang direvisi oleh IMF. Pada awal November, outflow east asia untuk China menjadi 8,4% semula 7,2%. "China sebagai pendorong ekonomi di wilayah Asia, pertumbuhan ekonomi China yang positif membuat mata uang asia pun menguat," jelas Dody.
Mata uang dolar AS yang melemah terhadap mata uang asing lain turut mempengaruhi penguatan Rupiah. Bank Central Amerika Serikat yang tetap mempertahankan suku bunga 0,25% membuat mata uang dolar AS melemah karena tidak memberikan imbal hasil tinggi. Persepsi investor suku bunga dipertahankan hingga dalam jangka waktu lama membuat mata uang dolar tidak menjadi safe heaven. "Investor mencari imbal hasil tinggi termasuk di negara berkembang yaitu Indonesia," kata Dody.
Selain itu, ada keyakinan dari investor, Bank Sentral Asia akan menaikkan suku bunga karena inflasi naik sehingga investasi akan memberikan imbal hasil tinggi. "Ke depan kemungkinan Rupiah akan menguat terbatas tetapi relatif stabil," ungkap Dody. [san/cms]