INILAH.COM, Jakarta - Penerbitan obligasi subordinasi (subdebt) rupiah I PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 3 triliun, akan difokuskan pada investor institusional.
Demikian disampaikan Chief Financial Office Bank Mandiri Pahala N. Mansyuri, dalam paparan publik obligasi subordinasi (subdebt) rupiah di Restoran Kembang Goela, Minggu (8/11). "Nasabah ada yang institusi dan ritel, fokus kita itu ke nasabah institusional," tuturnya.
Pahala melanjutkan, para investor memberikan sambutan yang baik saat pra pemasaran obligasi beberapa waktu lalu, diantaranya berasal dari perusahaan asuransi, dana pensiun, BUMN asuransi dan perusahaan sekuritas. "Salah satu perusahaan sekuritas ada yang mengatakan tertarik sampai Rp 1 triliun," ujarnya.
Kendati telah menyatakan banyak pihak yang tertarik, Pahala menegaskan pihaknya belum akan menambah besaran obligasi tersebut. "Kita optimis (akan terserap semua). Kita belum ada rencana untuk terbitkan di atas itu (Rp 3 triliun), " tutur Pahala.
Adapun tujuan diterbitkannya obligasi, Pahala mengatakan, adalah murni untuk pertumbuhan organik perseroan. "Tujuannya adalah untuk kepentingan ekspansi kredit, tidak ada maksud untuk kegiatan pertumbuhan non organik. Untuk pertumbuhan non organi," paparnya.
Sementara ketika dikonfirmasi, apakah ada kekawatiran akan muncul pergeseran dana dari dana pihak ketiga (DPK) ke obligasi subordinasi tersebut, Pahala tanpa ragu mengatakan tidak ada kekawatiran. "Kalau pun mereka pindah dari DPK ke obligasi, setidaknya mereka tetap di Mandiri. Bukan ke institusi lain," ujarnya.
Sedangkan Direktur Bank Mandiri Bambang Setiawan mengatakan hal senada. "Kami tidak kawatir akan terjadi perpindahan, karena ada program-program untuk mempertahankan ataupun memperoleh DPK-DPK yang lebih besar," ujarnya pada kesempatan yang sama.
Ada beberapa langkah yang akan dilakukan Bank Mandiri untuk memepertahankan nasabah deposito agar tidak beralih ke obligasi, yaitu deposit franchise, peningkatan aset, dan wholesae banking transaction. [mre/hid]