inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Terdampar di Laut, WN Filipina Makan Sabun

Headline
istimewa
Oleh:
Senin, 9 November 2009 | 00:03 WIB
INILAH.COM, Palu - Satu dari 8 WN Filipina, korban kapal terdampar di perairan Tololitoli, Sulteng, mengaku, selama 7 hari terampung di laut, terpaksa makan sabun dan rumput.

"Kami tidak punya bekal. Karena itu tidak ada jalan lain kecuali mengganjal perut dengan benda-benda itu agar tidak kelaparan," kata Sater (32), salah ssatu warga Filipina di Palu, Minggu (8/11).

Ditemui di Rumah Detensi Imigrasi Palu Jln Tanjung Dako, Sater yang mengaku rela kehilangan salah satu buah hatinya menceritakan musibah yang menimpa kapal cepat (speed boat) yang mereka tumpangi. Speed boat yang mereka tumpangi tersebut berangkat pada 27 Oktober lalu dari Pulau Lahar Datu, Malaysia menuju pulau Ave-Ave Filipina.

Namun, ketika dalam perjalanan pulang, tiba-tiba kompas (alat penunjuk arah) tidak bisa berfungsi dengan normal (rusak). Akibatnya kapal mereka kehilangan arah dan akhirnya kehabisan bahan bakar (BBM).

Sater yang juga adalah nakhoda kapal milik salah satu pengusaha transportasi laut di Filipina itu mengatakan, mereka hanya pasrah hingga akhirnya terdampar dan ditemukan beberapa nelayan dalam wilayah perairan Kabupaten Tolitoli, daerah di bagian utara Sulteng pada 1 November kemarin.

Menurut dia, saat berangkat dari Pulau Lahar Datu, kapal yang dinakhodainya itu mengangkut 11 orang penumpang. Namun tiga di antaranya meninggal dunia di atas kapal. Ketiga penumpang yang meninggal dunia diduga kuat karena kelaparan adalah Ny Rosida (28), Risman (18 bulan) anak Ny Rosida, serta Jonatan (13 bulan), anak Sater, nakhoda kapal cepat itu.

Abdul Siman (suami Ny. Rosida), salah seorang korban yang selamat menuturkan, Ny Rosida, istri yang sangat disayangi dan dicintainya itu meninggal dunia dalam keadaan hamil. Kemungkinan istrinya meninggal dunia akibat terlalu banyak minum air asin.

"Saya pikir, istri saya meninggal gara-gara banyak minum air asin," katanya dengan sedih.

Siman mengakui, mereka semua warga negara Filipina yang hendak pulang usai bekerja di Malaysia. "Kami semua warga Filipina dan bekerja di bengkel perusahaan minyak kelapa sawit dan juga buruh kasar bangunan di Malaysia," kata dia.

Namun naas, ketika dalam perjalanan pulang menuju Filipina, kapal cepat yang mereka tumpangi itu salah arah karena alat kompas rusak hingga akhirnya kehabisan BBM dan terdampar di Tolitoli.

Mereka kini berharap pemerintah, khususnya Kantor Imigrasi setempat dapat membantu kepulangan mereka ke negara asal untuk bisa bertemu dengan sanak-keluarga di Filipina. "Kami ingin sekali segera pulang ke Filipina. Di sana pasti keluarga kami sedang mencari dan menunggu kami pulang," kata Ny Ema (26), salah satu korban terdampar.

Sejak mereka ditemukan hingga menjalani perawatan di Puskesmas Ogotua, Kecamatan Dampal Selatan, kemudian dirujuk ke RSUD Tolitoli hingga diserahkan kepada pihak Imigrasi Palu pada hari Sabtu (7/11), mereka mendapat perlakukan sangat baik dari masyarakat maupun petugas berwenang.

"Kami diperlakukan begitu baik oleh masyarakat dan aparat keamanan serta petugas Imigrasi," tutur Ny Ema sambil menangis. [*/jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.