INILAH.COM, Jakarta - Glen Genardi dan rekan-rekannya kini bisa bernafas lega. Soalnya, sudah dipastikan, BRI tak jadi mencaplok Bank Bukopin. Yang masih deg-degan justru manajemen BNI.
Soalnya, penggabungan antara BNI dengan Bank Mandiri justru malah kian santer terdengar. Skenarionya, memang, belum berubah alias masih skenario lama. Bank Mandiri bakal menjadi sebuah holding, sementara BNI akan menjadi anak perusahaan.
Menurut sebuah sumber yang layak dipercaya, merger ini dilakukan lantaran dua bank ini memiliki bisnis yang nyaris sama yakni menggarap korporasi. Buat apa dua bank pemerintah bersaing menggarap pasar yang sama, kata sang sumber.
Sayang, belum jelas benar, bila penggabungan itu akan dilangsungkan. Satu hal yang pasti, kata sang sumber, rencana itu baru akan mendekati kenyataan setelah Presiden SBY mengajukan nama calon Gubernur Bank Indonesia ke DPR RI.
Lo, apa hubungannya merger Bank Mandiri-BNI dengan pengangkatan Gubernur BI? Begini. Menurut si empunya cerita, ada kemungkinan Presiden kembali mengajukan Agus Martowardojo sebagai calon Gubernur Bank Indonesia.
Jika benar itu terjadi, maka posisi puncak di Bank Mandiri akan diisi oleh Gatot Suwondho, yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Bank BNI. Sementara pucuk pimpinan di BNI akan diisi oleh salah seorang direktur dari Bank Mandiri.
Kabarnya acara tukar tempat ini sengaja dilakukan untuk memuluskan penggabungan dua bank tersebut. Dengan adanya pertukaran pucuk pimpinan, sosialisasi di dua bank itu akan menjadi lebih mudah, kata sang sumber.
Benarkah ada rencana seperti itu? Kita lihat saja nanti. Sebab, segala sesuatu bisa saja terjadi di dunia perbankan pelat merah negeri ini.
Buktinya, kendati salah satu direksi di BRI secara tidak langsung telah mengumumkan rencana pencaplokkan Bukopin, toh akhirnya rencana itu batal. Padahal, secara finansial, BRI memiliki kemampuan untuk mengakuisisi Bukopin. [mdr]