INILAH.COM, Jakarta - nSaham-saham di Bursa Asia, Senin (9/11) naik karena para investor tidak memandang turunnya data pekerja di AS, suku bunga bank masih tetap di level terendahnya. Bursa regional mengikuti pergerakan Wall Street, di mana indeks Dow Jones naik luar biasa akhir pekan lalu, meskipun Perintah AS mengumumkan adanya kenaikan angka pengangguran menjadi 10% dibanding bulan sebelumnya, atau tertinggi sejak 1983.
Meskipun angka pengangguran AS naik, namun investor masih didukung The Fed yang masih mempertahankan suku bunga bank tetap rendah di kisaran 0-0,25%. Rendahnya suku bunga tersebut menurunkan permintaan terhadap dolar AS dan mendukung likuiditas, yang berdampak positif ke bursa.
"Sektor ekonomi masih lemah, dan kita berharap tidak akan ada kenaikan suku bunga dalam jangka pendek ini," kata Linus Yip, analis strategis di First Shanghai Securities Ltd., Hong Kong. "Sehingga semua itu akan membantu pasar AS dan Hong Kong tetap kokoh," tambahnya.
Saat ini, investor AS telah mencerna data tenaga kerja, dan mereka akan kembali fokus ke China," ujar Yip. Beberapa indikator ekonomi AS akan keluar pekan ini, termasuk penjualan ritel, data industri, dan indeks harga konsumen.
Indeks Hang Seng

Hong Kong naik 1,1 % ke level 22.063,16, dan Indeks Nikkei Jepang naik 0,4% ke 9.823,90. Saham-saham utama di Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Australia, dan New Zealand juga naik. Tapi mayoritas saham di China mengalami penurunan. Saham-saham finansial dan asuransi di beberapa pasar terlihat naik dengan tajam.
AXA Pacific Holdings Ltd. Australia naik lebih dari 32% setelah menolak penawaran pengambilalihan sebesar US$ 10 juta oleh pesaingnya AMP Ltd.
Di Japan, Mitsui Sumitomo Insurance Group Inc. naik 8,8% setelah mencatatkan pendapatan yang lebih baik selama April-September.
Penguatan yen secara terbatas di pasar uang Tokyo berdampak negatif terhadap para eksportir. Toyota Motor Corp. anjlok 0,6 %, sementara Canon Inc. turun 0,9%. [cms]