INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Selasa (10/11) diprediksikan bergerak datar cenderung melemah seiring respon terhadap utang perseroan yang negatif. Jual saja untuk BUMI! Nico Simatupang, analis investasi PT GMT Aset Manajemen mengatakan potensi pergerakan
BUMI yang
flat cenderung melemah hari ini terdorong sikap pasar yang masih khawatir terhadap utang-utang perseroan. Pasar masih merespons negatif terhadap utang BUMI sebelumnya sebesar US$ 1,9 miliar terhadap China Invesment Corporation (CIC).
Apalagi, ditambah dengan obligasi senilai US$300 juta yang sebelumnya dikabarkan emiten ini menjajaki penerbitan obligasi senilai US$500 juta.
BUMI akan mengarah ke level
support Rp2.170 dan Rp2.400 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Senin (9/11).
Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp25 (1,07%) menjadi Rp2.300 dibandingkan sebelumnya Rp2.325. Harga tertingginya mencapai Rp2.375 dan terendah Rp2.225. Sedangkan volume transaksi mencapai 207,08 juta unit saham senilai Rp473,4 miliar dan frekuensi 6.824 kali.
Lebih jauh Nico mengatakan, sudah lima hari terakhir BUMI bergerak pada kisaran itu. Ia menegaskan semakin besar utang BUMI semakin negatif pengaruhnya terhadap pergerakan sahamnya. Pelaku pasar semakin khawatir jika utang BUMI bertambah. Pelaku pasar semakin takut dan harga sahamnya akan semakin turun, ujarnya.
Padahal, perseroan berargumentasi utang jangka panjang ini akan menguntungkan. Namun, tetap saja untuk jangka pendek perseroan akan menderita terlebih dahulu. Pasar berpikir, jika ingin menderita biarlah BUMI sendiri yang merasakannya. Kalau untung baru ajak kita, tukasnya.
Di sisi lain, jika melihat sentimen market terutama regional sangat positif di mana Hang Seng kemarin naik 1,7% sehinga berpeluang mendongkrak indeks hari ini. Begitu juga dengan bursa Eropa yang rata-rata positif di atas 1%. Tapi, untuk BUMI sepertinya masih tetap akan
flat, timpalnya.
Sedangkan sentimen dari harga komoditas, harga minyak saat ini sedang turun sehingga tidak bisa diharapkan mendongkrak BUMI. Namun, minyak sedikit terkerek naik ke level US$78 per barel

karena ada terpaan topan di teluk Meksiko. Di sana ada anjungan Chevron, yang menghasilkan 27% produksi nasional AS, paparnya.
Angin topan bisa saja menjadi
support penguatan harga minyak jika hembusannya sangat parah dan mengakibatkan berhentinya produksi Chevron. Tapi, sejauh ini Chevron belum berhenti berproduksi dan belum diketahui seberapa besar keparahannya, imbuhnya.
Jika harga minyak dunia menguat signifikan dan kembali menembus di atas US$80 per barel hal itu akan menjadi sentimen positif bagi BUMI dan harga sahamnya bisa menguat. Tapi menurutnya, untuk hari ini belum bisa mengangkat saham batubara
thermal ini. Mungkin beberapa hari lagi baru berpengaruh positif, tuturnya.
Sementara itu, harga emas yang melambung tinggi ke level US$1.107 per troy ons menyusul pembelian emas oleh India sebesar 400 ton dari IMF. Diperkirakan, banyak bank sentral yang akan menukarkan dolar AS dengan emas. Orang ketakutan pegang dolar dan akhirnya ikut-ikutan pegang emas, ucapnya.
Namun ini, menurut Nico hal ini belum berpengaruh positif bagi BUMI untuk saat ini. Hubungan emas dengan penguatan harga batubara tampak dari sisi nilai tukar dolar AS yang melemah sehingga denominasi batubara menjadi naik. Apalagi, pelaku pasar berusaha menukar dolar AS yang mereka miliki dengan komoditas termasuk batubara sebagai
hedging, ungkapnya.
Tapi, menyusul kenaikan harga emas, yang paling pertama terpengaruh naik adalah nikel. Memang, nantinya pada saat batubara naik, pelaku pasar akan mempertimbangkan hal itu sebagai aset untuk
hedging. Ini dilakukan sebagai lindung nilai fortopolio-nya, urainya.
Di atas semua itu, Nico merekomendasikan jual untuk BUMI. Menurutnya, kalaupun berniat masuk, saham ini harus berada pada level serendah-rendahnya di bawah Rp2.000 terlebih dahulu. Saya juga tidak merekomendasikan untuk
trading di saham ini. Pada saat BUMI menguat tipis, jual saja, pungkasnya. [mdr]