Minggu, 27 Mei 2012 | 09:09 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Prediksi IHSG Bergerak ‘Sideways’
Akumulasi Infrastruktur-Konsumsi
Headline
inilah.com /Dokumen
Oleh: Natascha & Vina Ramitha
web - Selasa, 10 November 2009 | 06:42 WIB
INILAH.COM, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (10/11) diperkirakan bergerak dua arah. Saham-saham pilihan: MYOR, RALS, MPPA, PGAS, SMGR, SMCB, dan TLKM.
Analis Asia Kapitalindo Securities Arga Paradita memprediksikan, IHSG hari ini akan bergerak sideways, seperti perdagangan kemarin. IHSG berpeluang menguat, seiring aksi window dressing akhir tahun yang memicu kenaikan. Namun, pergerakan indeks masih tertahan karena pasar masih menanti data-data AS yang akan dirilis.
Investor juga meredam aktivitas pembelian aset di pasar berkembang, mencermati program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu. Kondisi ini bisa digunakan untuk mengakumulasi saham yang bisa mencatatkan kinerja membaik di akhir tahun. Terutama mereka yang bisa melakukan window dressing untuk meningkatkan earning itu, katanya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, meski fundamental ekonomi cukup bagus, indeks dalam negeri banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama dari data-data ekonomi AS. Hal ini akibat kucuran stimulus ekonomi, yang sudah diputuskan berlanjut pada pertemuan G20 kemarin. Pertumbuhan ekonomi negeri adidaya itu memang bagus, bahkan melebihi target.
Namun, lanjut Arga, membaiknya indikator ekonomi AS itu tidak disertai pemerataan ke sektor riil, terlihat dari tingginya angka pengangguran yang tembus angka 10%. Hal ini menegaskan pemulihan di AS hanya pada sektor finansial saja.
Ini merupakan tekanan bagi sektor konsumsi AS dan menyulitkan negara-negara yang mengandalkan ekspor ke AS. Kebanyakan negara di Asia terpengaruh dan ini juga berimbas pada ekspor Indonesia ke negara seperti China dan Jepang, tukasnya.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung sektor konsumsi yang memang sedikit mengkhawatirkan, karena kekuatan global belum sepenuhnya pulih. Tapi, hal ini tidak terlalu signifikan dan hanya menahan penguatan indeks.
Tak ada perubahan di risk appetite, investor sendiri banyak melihat ke faktor domestik. Jika ada pemulihan di sektor finansial, maka mereka akan beralih ke pasar emerging yang memberikan imbal hasil tinggi, ulasnya.
Tingginya risk appetite ini menguntungkan Indonesia karena imbal hasil yang lebih tinggi ketimbang negara Asia lain. Faktor ini didukung keputusan bank sentral AS The Fed yang tidak menaikkan suku bunga. Sehingga, capital inflow masih masuk ke pasar domestik.
Beberapa sektor yang direkomendasikan Arga berasal dari sektor konsumsi (consumer goods), seperti PT Mayora (MYOR), PT Ramayana (RALS), dan PT Matahari Putra Prima (MPPA).
Kemudian saham sektor infrastruktur seperti PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Semen Gresik (SMGR), PT Holcim Indonesia (SMCB), dan PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM).
Sementara sektor komoditas, khususnya perkebunan, diperkirakan masih sulit menguat karena kejatuhan harga komoditas yang cukup dalam pada pertengahan 2009. Apalagi hingga kini belum ada pembalikan harga, Sementara kenaikan harga seperti tahun lalu masih sulit dicapai meskipun mereka melakukan window dressing, paparnya.
Pada perdagangan Senin (9/11), IHSG ditutup menguat 11,328 poin (0,47%) ke level 2.406,434. Perdagangan berjalan sangat sepi dengan volume transaksi 2,852 miliar lembar saham, senilai Rp 2,6 triliun, dengan frekuensi 56.208 kali. Sebanyak 78 saham naik, 91 turun dan 72 stagnan
Sektor aneka industri memimpin penguatan dengan naik 3,4%, disusul perdagangan 2,5%, manufaktur 1,4%. Kemudian sektor industri dasar, perkebunan dan konsumsi yang naik 0,5%, dan sektor finansial yang naik 0,4%. Sedangkan beberapa sektor seperti tambang, properti dan infrastruktur masih terpantau melemah.
Saham dari grup Astra berhasil menguat dan menopang penguatan bursa. Saham PT Astra International (ASII) naik Rp1.250 menjadi Rp31.600, United Tractor (UNTR) naik Rp700 menjadi Rp15.700, dan PT Astra Agro Lestari (AALI ) naik Rp350 menjadi Rp22.200.
Aksi emiten Astra ini berhasil meredam koreksi saham primadona PT Bumi Resources (BUMI), yang mendominasi pasar, dengan nilai transaksi sebesar Rp473 miliar, atau 18,2% dari total perdagangan hari ini. Adapun BUMI ditutup turun Rp 25 ke level Rp2.300
Beberapa emiten yang menguat antara lain PT Bukit Asam (PTBA) naik Rp150 menjadi Rp14.600, PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp150 menjadi Rp11.950, PT Bank Mandiri (BMRI) naik Rp75 menjadi Rp4.700.
Sedangkan emiten-emiten yang melemah antara lain PT Medco Energy (MEDC) turun Rp 75 menjadi Rp 2.625, PT Semen Gresik (SMGR) turun Rp 50 ke Rp 7.350, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) turun Rp 50 ke Rp 8.650, PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 25 menjadi Rp 3.675. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.