Senin, 28 Mei 2012 | 18:44 WIB
Follow Us: Facebook twitter
20 Tahun Tembok Berlin Runtuh
Berpesta Setelah Menjadi Satu
Headline
gettyimage
Oleh: Vina Ramitha
web - Selasa, 10 November 2009 | 05:54 WIB
INILAH.COM, Berlin Dua puluh tahun lalu, dinding sepanjang 155 kilometer di ibukota Berlin membagi dua Jerman. Kini, negara itu mengenang runtuhnya benda yang dibangun di era kejayaan komunis itu.
Ini hari paling membahagiakan dalam sejarah Jerman. Hidup semua orang, termasuk saya, berubah karena runtuhnya tembok Berlin, ujar Kanselir Jerman Angela Merkel dalam sebuah pesan video untuk warganya, Selasa (10/11).
Merkel mendapat dukungan dari para pemimpin Eropa, seperti Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan PM Rusia Vladimir Putin. Mereka berkumpul di Berlin, untuk merayakan sebuah peristiwa yang dirasakan haru-birunya hingga ke seluruh pelosok kawasan itu. Sebab, runtuhnya tembok Berlin juga berarti berakhirnya Perang Dingin dengan komunis.
Selain itu, PM Inggris Gordon Brown dan Menlu AS Hillary Clinton juga berada di beberapa kalangan VIP yang berdiri di Bradeburg Gate. Lokasi ini adalah sebuah dinding dengan kawat berduri besi yang membagi Jerman Barat dan Jerman Timur selama 28 tahun hingga akhirnya diruntuhkan pada 9 November 1989 lalu.
Dinding itu memenjarakan. Membelah dua kota ini, negeri ini, benua ini, dan bahkan dunia ini selama hampir sepertiga abad. Akhirnya, pemecah itu hancur oleh sebuah kekuatan, dari penduduk yang berani untuk bermimpi, ujar Brown, yang ikut meramaikan Fest der Freiheit alias Festival Kemerdekaan yang digelar di Berlin.
Hadirnya keempat perwakilan negara itu, merupakan perwakilan empat kekuatan yang memberikan Jerman kemerdekaan pasca Perang Dunia II, yakni AS, Inggris, Prancis, dan Rusia. Secara simbolis, keempat orang itu akan melewati pagar sebagai puncak acara Festival Kemerdekaan.
Festival dilanjutkan dengan seribu domino raksasa yang dibangun pada jalur di mana tembok Berlin dulunya berada. Pemimpin gerakan solidaritas yang menjadi Presiden Polandia, Lech Walesa, secara simbolis akan menjatuhkan domino pertama yang nantinya akan jatuh membelah kota Jerman.
Peringatan seru ini diawali misa di Gereja Gethsemane di bagian timur Berlin yang menjadi pusat gerakan bawah tanah untuk merubuhkan dinding itu. Merkel berada di tempat itu, bersama mantan pemimpin Jerman, Mikhail Gorbachev, yang beberapa kebijakannya juga ikut memuluskan kolaborasi Timur dan Barat menuju satu Jerman yang utuh.
Selanjutnya Merkel berjalan melewati jembatan Bornholmer Strasse, wilayah yang merupakan titik penyebrangan Jerman Barat dan Jerman Timur ketika pada masa itu.
Dua puluh tahun lalu, semua kejadian terpusat di tempat itu. Penjagaannya ketat, membuat emosi rakyat meningkat dengan cepat, papar analis Hubungan Internasional di Konsulat Jerman di AS, Jan Techau.
Ketika warga mengamuk dan meruntuhkan dinding, Sarkozy muda kebetulan sedang berada di Berlin dan menjadi saksinya. Ia melompat ke dalam mobil bersama calon PM Jerman, Alain Juppe.
Mereka ingin menjadi bagian sejarah dan bisa menuturkannya kepada orang lain. Sedangkan Merkel, malah sedang berada di sauna yang menjadi rutinitasnya.
Baru setelah itu ia ikut warga berarak menuju dinding dan takjub melihatnya runtuh. Ia tahu sesuatu yang besar akan terjadi karena di televisi sudah ada beritanya, bahwa perbatasan akhirnya akan dibuka. Tapi itu Kamis, dan hari itu merupakan jadwal sauna saya, papar perempuan yang berada di bagian Timur negeri itu sebelum terpecah.
Merkel sendiri mencatat sejarah, sebagai orang Jerman Timur pertama yang menjabat sebagai kanselir. Lain halnya dengan Putin yang ketika itu menjadi agen rahasia Rusia (KGB) yang ditempatkan di Jerman Timur. Putin sudah mendapat firasat namun tak merasa perlu melakukan apapun untuk mengubahnya.
Memecahkan negara tak ada gunanya. Sudah jelas, tak mungkin kami menahan sebuah bangsa bergerak menuju modernisasi, ujarnya yang juga tak menyangkal bahwa Rusia memang memiliki misi khusus ketika itu.
Namun ia enggan mengungkapkan misi macam apa. Bangsa lain boleh ikut bangga, namun hanya warga Jerman yang tahu runtuhnya tembok itu merupakan bukti bahwa tak ada yang tak mungkin. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.