INILAH.COM, Singapura - Harga minyak turun di perdagangan Asia, Selasa karena kekhawatiran investor seputar ancaman potensial badai Ida pada instalasi-instalasi minyak di Teluk Meksiko. Menurut strategi komoditas pada Commonwealth Bank of Australia yang berbasis di Sydney, David Moore, melemahnya mata uang Amerika Serikat, yang menjadikan minyak yang dihargakan dengan dolar menjadi lebih mahal bagi para pemilik unit-unit asing lainnya, juga merupakan salah satu faktor yang mendorong harga minyak turun. "Saya tidak berfikir bahwa (badai) Ida bisa dilihat sebagai faktor lain gangguan jangka pendek," katanya.
Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Desember turun 40 sen ke posisi US$79,03

per barel. Sementara minyak Laut Utara, Brent juga pengiriman Desember turun 37 sen menjadi 77,40 dolar per barel.
Pemulihan tipis dolar terhadap euro telah menjadi faktor lain yang mendorong harga minyak lebih rendah, kata Moore.
Di perdagangan Asia Selasa, euro turun ke posisi 1,4977 dolar dibanding dengan 1,4994 pada penutupan perdagangan AS Senin.
Sementara negara-negara produsen minyak terkemuka khawatir bahwa konferensi perubahan iklim PBB di Copenhagen bulan depan dapat menetapkan pajak baru atas industri-industri minyak dan gas, kata Menteri Energi Aljazair Chakib Khelil seperti dikutip, Minggu (8/11). [*/hid]