INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, turun 15 poin menjadi Rp9.430-Rp9.445 per dolar dibandingkan penutupan hari sebelumnya Rp9.415-Rp9.425
, karena pelaku tetap melakukan aksi lepas terhadap rupiah.Analis valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk, Rully Nova di Jakarta, Selasa (10/11) mengatakan, tekanan pasar makin menguat sehingga pelaku pasar berlanjut melepas rupiah. "Kami memperkirakan rupiah akan kembali bergerak turun hingga mendekati angka Rp9.500 per dolar," ujarnya.
Merosotnya rupiah juga terjadi karena pelaku masih menunggu kelanjutan dari kasus KPK dan Polri yang berkembang lebih jauh. Kisruh KPK VS Polri diperkirakan akan berlangsung lama, katanya.
Menurut dia, rupiah diperkirakan masih tertekan pada hari berikutnya, karena pelaku pasar sangat fokus terhadap masalah tersebut yang menimbulkan kekhawatiran hukum di dalam negeri mudah digoyah.
Pelaku pasar, lanjut dia semula hanya melepas rupiah untuk mencari untung, meski pasar regional membaiknya akibat menguat harga saham di Wall Street.
Namun kekhawatiran pelaku pasar terhadap kasus KPK VS Polri yang diperkirakan lebih panjang, maka mereka melepas rupiah meski aksi lepas itu belum besar, katanya.
Menurut dia, rupiah diperkirakan tidak akan bisa berada di bawah angka Rp9.300 per dolar pada akhir tahun ini sebagaimana yang dikatakan sejumlah analis.
Pelaku pasar terutama asing mulai hati-hati untuk menempatkan dananya lebih jauh, karena kasus Bank Century yang berganti nama Bank Mutiara sampai saat ini masih belum dapat di atasi oleh pemerintah, ucapnya.
Meski ada kekhawatiran, lanjut dia Indonesia masih merupakan harapan dari para pemodal asing untuk meraih keuntungan yang lebih besar, karena selisih bunga rupiah terhadap dolar AS masih tinggi. "Pelaku asing kemungkinan masih menahan diri dan tetap ingin bermain di pasar domestik, namun apabila muncul kasus-kasus lainnya dikhawatirkan mereka akan mengalihkan dananya ke pasar lain," ucapnya.
Ia mengatakan, pelaku pasar masih percaya terhadap pasar domestik, karena itu pemerintah diminta harus dapat menuntas berbagai persoalan yang muncul di pasar. Apalagi AS saat ini dilanda defisit anggaran pendapatan belanja Amerika Serikat yang makin membengkak, tegasnya. [*/hid]