inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Setelah Kemarin Koreksi Teknikal

Saatnya Akumulasi BUMI

Headline
inilah.com /Dokumen
Oleh: Ahmad Munjin
Rabu, 11 November 2009 | 09:13 WIB
INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Rabu (11/11) diprediksi menguat seiring koreksi kemarin. Tapi, jika indeks regional negatif, saham ini akan terlibas. Akumulasi BUMI!
Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Sekuritas mengatakan, peluang penguatan BUMI hari ini karena secara teknikal ada potensi pembalikan arah (reversal) menguat menyusul koreksi tajam kemarin yang menembus level support kuatnya di angka Rp2.150. Bahkan harga terendahnya saham ini mencapai Rp2.100.
Pembalikan arah menguat sangat mungkin terjadi jika market regional bergerak positif. BUMI akan bergerak pada kisaran support Rp2.000-1.800 dan Rp2.300 sebagai level resistance-nya, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (10/11), malam.
Menurutnya, indeks Dow Jones bisa saja berpengaruh terutama di sesi pagi sehingga BUMI bergerak negatif terlebih dahulu hingga mencapai support-nya di level Rp2.000. Tapi setelah itu, BUMI berpeluang rebound dan ditutup menguat. Menurut saya investor berani saja mengoleksi kembali untuk pemain longterm, tuturnya.
Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp150 (6,52%) menjadi Rp2.150 dibandingkan sebelumnya Rp2.300. Harga tertingginya mencapai Rp2.350 dan terendahnya Rp2.100. Sedangkan volume transaksi mencapai 518,1 juta unit saham senilai Rp1,1 triliun dan frekuensi 16.529 kali.
Namun demikian, Ukie mengakui level pergerakan BUMI saat ini berada pada kisaran yang rawan. Pasalnya, support kuat saham produsen batubara thermal di level Rp2.150 sudah berhasil ditembus ke bawah kemarin.
Jika level Rp2.100 sudah bisa ditembus BUMI agak riskan dan bisa mengarah ke level di bawah Rp2.000 secara teknikal, ujarnya. Apakah level Rp2.000 ini bisa ditembus ke bawah sangat tergantung pada pergerakan bursa global dan regional hari ini. Karena dari dalam negeri sudah sepi sentimen. Kemarin pun sebenarnya, koreksi indeks tidak signifikan tapi bagi BUMI cukup signifikan, ucapnya.
Jika dilihat dari indeks future Eropa yang kemarin sudah bergerak flat, indeks regional hari ini masih akan mencari arah. Indeks Indonesia pun cederung berfluktuasi. Apalagi, kenaikan output CPO sangat kencang sehingga harganya turun.
Di sisi lain kita melihat, keadaan politik dalam negeri juga belum menentu terkait persolaan hukum Polri versus KPK, timpalnya. Karena itu, saya melihat peluang indeks lokal melemah hari ini.
Sementara jika dilihat dilihat dari sentimen grupnya, BUMI masih mendapat pengaruh negatif terkait Bakrie Life yang default bayar kepada nasabahnya. Menurut Ukie, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan fundamental BUMI, tapi pasar tetap saja merespon negatif.
Sedangkan dari aksi korporasi BUMI belum ada hal-hal yang berpengaruh positif. Terkait adanya isu bunga pinjaman dari CIC diturunkan, ternyata itu pun hanya rumor. Lalu, BUMI juga yang disinyalir mengincar yield atas penawaran obligasinya senilai US$300-500 juta mencapai 11,5-12,0%, memang menjadi sentimen positif untuk jangka panjang.
Obligasi tersebut memiliki tenor tujuh tahun dengan call option setelah empat tahun. Perolehan dana akan digunakan untuk capex, potensial akuisisi, dan investasi serta modal kerja. Semua itu sudah terserap pasar. Sebenarnya bagus untuk jangka panjang karena sangat menguntungkan bagi perseroan, ucapnya.
Ukie menegaskan, BUMI lebih terpengaruh oleh faktor market seiring harga komoditas saat ini yang masih stabil. Di sisi lain, pelaku pasar sendiri memandang BUMI saat ini sebagai momentum konsolidasi terlebih dahulu sebelum terkerek naik.
Sedangkan tekanan jual dari asing saat ini sudah menipis sehingga tidak terlalu menjadi ancaman bagi saham sejuta umat ini. Hal ini tampak dari net sell asing kemarin yang hanya mencapai Rp60 miliar. Asing tidak terlalu dominan bermain di bursa kita saat ini, ungkapnya.
Asing, pada saatnya akan kembali masuk ke bursa Indonesia sehingga bisa mengonfirmasi penguatan BUMI. Pasalnya secara fundamental BUMI sangat positif karena demand batubara akan naik terus.
Market sendiri masih potensi tumbuh seiring recovery ekonomi. Apalagi, PLN mati terus. Artinya masih membutuhkan batubara. Ke depan BUMI masih bagus, selorohnya.
Di atas semua itu, dengan kondisi yang tidak terlalu menguntungkan bagi BUMI justru dinilainya merupakan saat yang tepat untuk akumulasi beli untuk investasi jangka panjang.
Ukie menganjurkan agar tipikal bermain tidak terlalu short term. Coba view-nya jangan spekulator melainkan view investor BUMI ke depan. Sehingga pergerakannya menjadi lebih sehat, pungkasnya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.