INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Rabu (11/11) diprediksi menguat seiring koreksi kemarin. Tapi, jika indeks regional negatif, saham ini akan terlibas. Akumulasi BUMI! Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Sekuritas mengatakan, peluang penguatan
BUMI hari ini karena secara teknikal ada potensi pembalikan arah (
reversal) menguat menyusul koreksi tajam kemarin yang menembus level support kuatnya di angka Rp2.150. Bahkan harga terendahnya saham ini mencapai Rp2.100.
Pembalikan arah menguat sangat mungkin terjadi jika market regional bergerak positif.
BUMI akan bergerak pada kisaran
support Rp2.000-1.800 dan Rp2.300 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (10/11), malam.
Menurutnya, indeks Dow Jones bisa saja berpengaruh terutama di sesi pagi sehingga BUMI bergerak negatif terlebih dahulu hingga mencapai
support-nya di level Rp2.000. Tapi setelah itu, BUMI berpeluang
rebound dan ditutup menguat. Menurut saya investor berani saja mengoleksi kembali untuk pemain
longterm, tuturnya.
Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp150 (6,52%) menjadi Rp2.150 dibandingkan sebelumnya Rp2.300. Harga tertingginya mencapai Rp2.350 dan terendahnya Rp2.100. Sedangkan volume transaksi mencapai 518,1 juta unit saham senilai Rp1,1 triliun dan frekuensi 16.529 kali.
Namun demikian, Ukie mengakui level pergerakan BUMI saat ini berada pada kisaran yang rawan. Pasalnya,
support kuat saham produsen batubara
thermal di level Rp2.150 sudah berhasil ditembus ke bawah kemarin.
Jika level Rp2.100 sudah bisa ditembus BUMI agak riskan dan bisa mengarah ke level di bawah Rp2.000 secara teknikal, ujarnya. Apakah level Rp2.000 ini bisa ditembus ke bawah sangat tergantung pada pergerakan bursa global dan regional hari ini. Karena dari dalam negeri sudah sepi sentimen. Kemarin pun sebenarnya, koreksi indeks tidak signifikan tapi bagi BUMI cukup signifikan, ucapnya.
Jika dilihat dari indeks future Eropa yang kemarin sudah bergerak
flat, indeks regional hari ini masih akan mencari arah. Indeks Indonesia pun cederung berfluktuasi. Apalagi, kenaikan
output CPO sangat kencang sehingga harganya turun.
Di sisi lain kita melihat, keadaan politik dalam negeri juga belum menentu terkait persolaan hukum Polri versus KPK, timpalnya. Karena itu, saya melihat peluang indeks lokal melemah hari ini.
Sementara jika dilihat dilihat dari sentimen grupnya, BUMI masih mendapat pengaruh negatif terkait Bakrie Life yang
default bayar kepada nasabahnya. Menurut Ukie, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan fundamental BUMI, tapi pasar tetap saja merespon negatif.
Sedangkan dari aksi korporasi BUMI belum ada hal-hal yang berpengaruh positif. Terkait adanya isu bunga pinjaman dari CIC diturunkan, ternyata itu pun hanya rumor. Lalu, BUMI juga yang disinyalir mengincar
yield atas penawaran obligasinya senilai US$300-500 juta mencapai 11,5-12,0%, memang menjadi sentimen positif untuk jangka panjang.
Obligasi tersebut memiliki tenor tujuh tahun dengan
call option setelah empat tahun. Perolehan dana akan digunakan untuk capex, potensial akuisisi, dan investasi serta modal kerja. Semua itu sudah terserap pasar. Sebenarnya bagus untuk jangka panjang karena sangat menguntungkan bagi perseroan, ucapnya.
Ukie menegaskan, BUMI lebih terpengaruh oleh faktor market seiring harga komoditas saat ini yang masih stabil. Di sisi lain, pelaku pasar sendiri memandang BUMI saat ini sebagai momentum konsolidasi terlebih dahulu sebelum terkerek naik.
Sedangkan tekanan jual dari asing saat ini sudah menipis sehingga tidak terlalu menjadi ancaman bagi saham sejuta umat ini. Hal ini tampak dari
net sell asing kemarin yang hanya mencapai Rp60 miliar. Asing tidak terlalu dominan bermain di bursa kita saat ini, ungkapnya.
Asing, pada saatnya akan kembali masuk ke bursa Indonesia sehingga bisa mengonfirmasi penguatan BUMI. Pasalnya secara fundamental BUMI sangat positif karena
demand batubara akan naik terus.
Market sendiri masih potensi tumbuh seiring
recovery ekonomi. Apalagi, PLN mati terus. Artinya masih membutuhkan batubara. Ke depan BUMI masih bagus, selorohnya.
Di atas semua itu, dengan kondisi yang tidak terlalu menguntungkan bagi BUMI justru dinilainya merupakan saat yang tepat untuk akumulasi beli untuk investasi jangka panjang.
Ukie menganjurkan agar tipikal bermain tidak terlalu
short term. Coba
view-nya jangan spekulator melainkan
view investor BUMI ke depan. Sehingga pergerakannya menjadi lebih sehat, pungkasnya. [mdr]