INILAH.COM, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (11/11) berpotensi melanjutkan penguatan. Ancaman pelemahan dolar AS masih akan menjadi faktor penggeraknya. Analis valas Bank Rakyat Indonesia (BRI), Rahmat Wibisono memprediksikan, rupiah hari ini berpotensi menguat. Faktor pelemahan dolar AS masih akan menjadi penopang penguatan rupiah. Sehingga rupiah akan bergerak di kisaran 9.350-9.450 per dolar AS, ujarnya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (10/11).
Faktor pelemahan dolar tersebut diekspektasikan terjadi hingga kuartal pertama 2010. Ia memprediksikan, bank sentral AS akan terus mempertahankan suku bunganya di tingkat rendah. Akibatnya, mata uang mereka akan menjadi sumber pembiayaan untuk
carry trade, paparnya.
Rakhmat menuturkan, seharusnya dalam kondisi ini, rupiah menguat. Namun ada kesan penguatan dibatasi karena otoritas fiskal RI. Dalam pertemuan G20, Menkeu mengatakan, bahwa ekspor menjadi tidak kompetitif dan proyeksi pertumbuhan terganggu, bila penguatan mata uang di negara berkembang terus berkelanjutan.
Rally rupiah pun terbatas, seharusnya bisa menguat lebih dari level ini, paparnya.
Ia menilai, ada kesan rupiah mendapat intervensi dari pemerintah atau Bank Indonesia (BI) yang tak ingin terlalu menguat. Padahal sebenarnya, BI tak perlu terlalu menahan apresiasi rupiah secara berlebihan. Dalam situasi saat ini, dolar memang sedang melemah. Jadi buat apa melawan arus pasar.
Di sisi lain, Frans Darwin Sinurat, analis valas dari Bank Mutiara memperkirakan pergerakan rupiah

pada Rabu (11/11) ini berpotensi menguat seiring pelemahan dolar AS di pasar global.
Ia menilai pada sesi pagi, mata uang RI itu akan mengalami pelemahan terlebih dulu. Rupiah akan bergerak pada kisaran 9.400-9470, katanya ketika dihubungi terpisah. Menurutnya, investor di pasar domestik meyakini ruang penguatan rupiah sudah sempit.
Sedangkan korporasi domestik cenderung memborong dolar AS untuk kepentingan akhir tahun, seperti membayar bunga utang dan cicilan pokok. Hal ini akan menekan rupiah. Karena itu, rupiah di sesi pagi cenderung melemah terlebih dahulu, ujarnya.
Pada sesi siang, ketika permintaan dolar AS menipis, rupiah secara perlahan menguat kembali. Setelah rupiah melemah ke arah 9.470 orang akan
profit taking dolar AS sehingga mata uang RI itu kembali menguat di sesi penutupan ke arah level 9.400-an, timpalnya.
Permintaan korporasi terhadap dolar AS biasa terjadi menjelang akhir tahun, yaitu Oktober hingga awal Desember 2009. Kemudian pada awal 2010, permintaan akan dolar AS mulai menipis. Apalagi, sebagian pelaku pasar juga sudah libur cuti dan lainnya, pungkasnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (10/11) melemah 20 poin (0,212%) terhadap dolar AS menjadi 9.430/9.440

. [vin/ast]