Senin, 28 Mei 2012 | 18:46 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ciri-ciri Masyarakat Sedang Sakit
Ketika Sumpah Diobral
Headline
M Jasin - tvone
Oleh: Djibril Muhammad
web - Selasa, 10 November 2009 | 23:10 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Bersumpah atas nama Tuhan, boleh. Tetapi, ketika banyak yang melakukannya, itu suatu pertanda. Bahwa, suatu masyarakat sedang sakit mental dan moralnya.


Inilah pendapat Guru Besar Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Hasanudin AF. Kepada INILAH.COM, Hasanudin melihat bahwa fenomena bersumpah atas nama Tuhan, sebagai tanda adanya penyakit di masyarakat.

Hasanudin AF mengungkapkan pendapatnya saat dimintai pandangan tentang banyaknya orang-orang bersumpah atas nama Tuhan di depan publik. Terutama, ketika banyak kasus-kasus hukum diungkap ke media massa.

''Di dalam Islam, sumpah itu ada ajarannya. Artinya, sumpah itu dilakukan untuk meyakinkan diri sendiri atau seseorang tentang suatu tuduhan yang dilekatkan padanya itu tidak benar. Ajaran itu dibenarkan dalam Islam. Cuma pelaksanaannya seharusnya tidak sembarangan,'' katanya, Selasa (10/11).

Ini sama saja berarti, sumpah atas nama Tuhan itu bisa dilakukan terutama ketika seseorang berada dalam keadaan mendesak. Sumpah bisa diucapkan ketika berada dalam saat-saat yang diperlukan.

''Nah, yang sekarang terjadi ini sumpahnya seperti apa? Perbuatannya apa?'' kata Hasanuddin.

Guru Besar Fakultas Syariah ini melihat, kecenderungan yang terjadi, sumpah itu justru sering dilakukan sebagai alibi untuk mengaburkan masalah dan tuduhan.

''Apakah yang sebenarnya dia perbuat, sehingga dia mengeluarkan air mata dan bersumpah. Apakah sumpah itu bertentangan dengan hati nurani atau sebaliknya justru melakukan perbuatan yang disangkakan?'' tanya Hasanudin.

Memang, sumpah itu pada akhirnya akan kembali pada setiap diri yang bersumpah. Karena, hanya mereka yang bersumpah-pah yang paling tahu tentang arti sumpahnya.

Karena itu, akan berbahaya kalau sumpah tersebut dijadikan pedoman oleh hakim, sementara di dalam hati yang bersumpah, dia mengetahui bahwa sebenarnya dia berbohong.

''Kalau sudah begitu, hanya dirinya yang bersumpah dan Tuhan yang tahu. Apa yang diucapkan memang menjadi pertimbangan. Tapi kalau kemudian ada bukti lain, itu menjadi urusan dia dengan Tuhan. Dan sudah pasti ada risiko. Artinya, sejauh mana sumpah yang dilakukan berdasarkan kenyataan atau sebaliknya. Cuma sekali lagi, bagi hakim tentu akan menjadi pertimbangan,'' katanya.

Sekali lagi, Hasanudin mengatakan bahwa fungsi sumpah adalah untuk menolak apa yang disangkakan atau meyakinkan apa yang tidak diperbuat. Namun, ketika banyak orang bersumpah, itu sudah menunjukkan suatu gejala yang tidak sehat.

''Itu menunjukkan ciri-ciri masyarakat sedang sakit, yakni sakit mental dan moral. Sehingga semuanya berlindung pada asma Allah,'' tegasnya.

Di Islam sendiri, sudah ada sejarah tentang sumpah atas nama Tuhan. Penyimpangan dan penyalahgunaan sumpah, ada hukum dan konsekuensinya.

Karena itu, ketika banyak orang bersumpah atas nama Tuhan, justru menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk membongkar mafia hukum. Sehingga, sumpah itu tidak berubah menjadi sumpah serapah karena orang tidak percaya pada hukum dan pengadilan.[*/ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
abdul salam jailani
Rabu, 11 November 2009 | 10:35 WIB
bagi orang yg tertuduh, bisa bersumpah dg nama Tuhan untuk menolak apa yg dituduhkan itu tdk benar. begitu dlm ajaran Islam. bagi penuntut harus menunjukkan bukti & saksi. dalam hal kebenaran hakiki yg paling Tahu memang Tuhan (Alloh SWT). kalo bukti & saksi tidak kuat/tidak mendukung dakwaan/tuduhan, maka bisa dibebaskan tertuduh itu apatah lagi dia sudah bersumpah dg nama Tuhan. sepanjang orang itu berakal,baligh (dewasa) sadar dan paham apa yg disumpahkan kita tdk perlu menilai berlebihan/ buruk sangka. karena hal ini tidak dibenarkan dlm Islam. untuk fenomena masyarakat yg sakit, terkait masalah sumpah ini, masih harus dibuktikan atau dilakukan pengkajian lebih dalam. Masyarakat yg sakit juga definisinya apa ? dlm pandangan psikologi,filosofi,agama, atau budayakah ? jadi menurut hemat saya, biarlah proses ini berjalan. bukan berarti kita tdk boleh bersumpah dg nama Tuhan. yg penting orang yg bersumpah tadi sadar betul apa yg diucapkan/disumpahkan tadi dan konsekwensinya. terima kasih
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.