Senin, 28 Mei 2012 | 18:47 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Kasus KPK & Gesernya Peta Ring-1 Istana (1)
Headline
Presiden SBY - inilah.com /Dokumen
Oleh:
web - Rabu, 11 November 2009 | 09:45 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Begitu eskalasi kasus Bibit-Chandra meningkat, ada yang berubah di Istana Negara. Presiden SBY mengubah komposisi orang-orang di lingkaran satu Istana Negara. Ada apa?

Heru Lelono, staf khusus Presiden SBY, beberapa hari ini sakit. Melalui beberapa orang dekatnya, Heru yang dimintai komentar tentang situasi yang sedang terjadi, tak memberi jawaban.

Hal yang sama terjadi beberapa staf khusus yang lain. Semua tak mau memberikan jawaban tentang apa arah kebijakan dan sikap Presiden SBY terhadap situasi mutakhir: meningkatnya perseteruan KPK-Polri.

National Summit, yang tadinya akan menjadi Opening Chemistry pemerintahan yang baru (meski wajahnya banyak yang lama), lewat begitu saja. Dua kubu berhadap-hadapan dalam ketegangan tinggi: pro KPK dan pro penegakkan hukum melalui institusi pengadilan.

Bahkan, hari Sabtu (7/11) saat ada pengumuman penting bagi konstalasi perpolitikan nasional, tak ada yang mereaksi. Tiga Kepala Staf diganti secara bersamaan: KSAD, KSAU dan KSAL.

Begitu juga hari Senin (9/11), saat pelantikan tiga Kepala Staf baru di Istana Negara digelar, tak ada reaksi. Letnan Jenderal George Toisuta menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) menggantikan Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo.

Laksamana Madya Agus Suhartono sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) menggantikan Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno, dan Marsekal Muda Imam Sufaat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) menggantikan Marsekal Soebandrio.

Tak ada yang memberikan komentar atau prediksi kenapa tiga Kepala Staf diganti secara bersamaan, meski pengangkatan pejabat lama berbeda waktunya. Beberapa pengamat militer mengaku aneh karena pergantian yang mendadak dan tiga angkatan sekaligus, tapi tidak bisa memberi komentar.

Agustadi menjabat KSAD sejak Desember 2007. Tedjo menjabat sebagai KSAL sejak Juli 2008, dan Soebandrio menjabat KSAU sejak Desember 2007.

Sebelumnya, George adalah Panglima Komando Pasukan Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad). Agus Suhartono adalah Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan dan Imam Sufaat adalah Panglima Komando Operasi I TNI AU.

Wakil Presiden Boediono sendiri, sejak pertama melakukan aktivitas sebagai Wakil Presiden, tidak lagi berkantor di Jalan Merdeka Selatan, atau Istana Wapres. Tapi, sudah pindah ke Jalan Merdeka Utara, di kompleks Istana Negara.

Selain Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang juga berkantor satu komplek di Istana Negara adalah Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan Pembangunan (UKP3) di bawah pimpinan Kuntoro Mangkusubroto.

Yang juga berubah adalah Staf Khusu Presiden. Sebelumnya, berdasarkan PP nomor 40 tahun 2005, komposisi staf khusus Presiden SBY adalah: Andi Mallarangeng, juru bicara Presiden, Dino Patti Djalal, staf khusus Presiden bidang hubungan luar negeri, Sardan Marbun, staf khusus bidang penegakan hukum dan korupsi, pada 29 Agustus 2008 diangkat Denny Indrayana menjadi staf khusus Presiden bidang hukum.

Selain itu ada Irvan Edison, staf khusus bidang pertahanan, Heru Lelono, staf khusus bidang otonomi dan pemerintahan daerah, Kurdi Mustafa, staf khusus bidang komunikasi sosial dan Djali Yusuf, staf khusus bidang komunikasi politik.

Informasi yang diperoleh INILAH.COM, Minggu depan ini, komposisi staf khusus Presiden akan berubah. Wajah lama yang bertahan adalah Denny Indrayana, Sardan Marbun, Irvan Edison, dan Heru Lelono.

Beberapa wajah baru akan muncul. Mereka adalah Wakil Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono, Bara Hasibuan, pengamat politik dari Universitas Airlangga Daniel Sparingga, Direktur Eksekutif Institute for Regional Institutions And Networks (IRIAN) Velix Wanggai.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia Julian Pasha dikabarkan akan menjadi juru bicara. Dan aktivis Jaringan Nusantara Andi Arief akan menjadi Staf Khusus bidang komunikasi politik.

Nama Jusuf Jangkar, seorang aktivis pembauran juga disebut-sebut akan mendapat posisi sebagai staf khusus.[bersambung/ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
2 Komentar
puji santoso
Senin, 7 Desember 2009 | 12:30 WIB
saya sebenarnya ingin komentar tapi batal terlaksana karena takut entar ditangkap dalam keterbatasan berpendapat hanya pesan saya bagi yang berseteru sudahlah jangan terlalu subjective tapi serahkan kasus ini tanpa curiga, bebas proteksi terhadap oknum yang dicurigai dan percayalah bila tidak berbuat mana mungkin terjerat hukum atau mosi tidak percaya, demi bangsa dan rakyat indonesia tinggalkan egoisme kelompok atau perorangan, MERDEKA
Bingo
Sabtu, 14 November 2009 | 04:08 WIB
Berubah dicurigai...tidak berubah dicemooh. Bersamaan dicurigai...pelan-pelan berurutan dianggap kurang tanggap sinergi kebijakan. Jadi presiden memang sulit. Lebih mudah jadi rakyat yang gampang mengkritik.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.