INILAH.COM, Tangerang - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berencana meluncurkan Roket Pengorbit Satelit (RPS) pada tahun 2014 dengan daya dorong tinggi.
Deputi Bidang Teknologi Dirgantara LAPAN Soewarto Hardhienata, Rabu (11/11) menyatakan, LAPAN saat ini sedang mengembangkan roket pengorbit satelit yang nantinya digunakan sebagai jaringan komunikasi dan unit pertahanan.
Dia mengutarakan, untuk memaksimalkan peluncuran roket pengorbit satelit, LAPAN telah melakukan uji coba beberapa bagian RPS pada tahun 2008, 2009, 2010 dan uji coba pemantapan dilakukan tahun depan.
"Dari hasil uji coba itu, kita ingin mengetahui apa saja kekurangan dan keunggulan RPS, tetapi secara keseluruhan kita akan meluncurkan RPS tahun 2014," ungkap Soewarto.
Hal itu dikatakannya usai seminar nasional iptek dirgantara XIII-2009 dengan tema "Mewujudkan Penguasaan Iptek Antariksa Menuju Kemandirian Bangsa di Puspiptek, Setu, Tangerang Selatan.
Soewarto menjelaskan, RPS yang didesain para peneliti LAPAN akan diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (DI). Dalam rancangannya RPS meluncur dengan kecepatan tinggi mencapai ketinggian 314 kilometer.
Diakuinya, RPS dirancang empat bagian dan bagian-bagian dari RPS akan terpisah satu demi satu di atas udara setelah diluncurkan sebelum mencapai puncak dan meninggalkan roket yang terus meluncur ke titik sasaran.
"Ketika diluncurkan bagian-bagian dari roket penerbit satelit akan terlepas dan hanya roket yang terus menuju puncak," kata Soewarto.
Rencananya, lanjut Soewarto, LAPAN akan mencari lokasi peluncuran RPS yang tepat sesuai dengan arah satelit dan tata ruang wilayah.
Diantara daerah yang sedang diincar LAPAN untuk meluncurkan RPS tahun 2014 adalah kawasan Biak, Jayapura, Pulau Nias, dan Ternate.
Ia mengatakan, daerah tempat peluncuran RPS merupakan daerah yang tidak mendekati pemukiman warga, jauh dari keramaian. Menurut dia, LAPAN lebih menitikberatkan daerah yang berdekatan dengan lautan bebas untuk meluncurkan RPS.
"Kita pusatkan peluncuran satelit ke dua arah, jika tidak ke arah timur akan dipilih ke arah selatan. Lebih mengarah ke lautan bebas, bila dekat dengan permukiman padat takutnya bagian dari RPS yang terlepas bisa membahayakan penduduk sekitar," kata dia.
Sementara itu, Kepala Pusat Litbang Material Departemen Pertahanan Eddy Sirait menyatakan, dalam peluncuran RPS yang menjadi persoalan adalah belum tersedianya tabung pengaman bagi RPS.
Tabung RPS sendiri berguna untuk mengamankan ruang roket dan ruang satelit karena belum diproduksi oleh industri yang ada di Indonesia.
"Kita sedang mencari celah industri yang dapat memproduksi tabung itu, tetapi yang kita butuhkan adalah bantuan pemerintah, industri dalam negeri, dan pengusaha yang mendukung agar peluncuran RPS bisa berjalan lancar," ungkapnya.[*/ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !