Sabtu, 26 Mei 2012 | 11:35 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Fed Rate Bertahan, Rupiah Terangkat
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Ahmad Munjin
web - Rabu, 11 November 2009 | 18:33 WIB
INILAH.COM, Jakarta Penguatan indeks saham disambut ceria di pasar uang sehingga rupiah berada di teritori positif. Dipertahankannya The Fed Fund Rate di level 0-025% menjadi pemicunya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (11/11) menguat 40 poin (0,424%) terhadap dolar AS menjadi 9.390/9.400, ketimbang posisi kemarin di level 9.430/9.440. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.00 WIB rupiah menguat 28 poin (0,29%) menjadi 9.394 per dolar AS.
Tony Mariano, analis valas Harvest International Futures mengatakan, penguatan rupiah masih ditopang pelemahan dolar AS. Terutama atas peluang dipertahankannya The Fed Fund Rate di level 0-0,25% hingga tahun depan. Karena itu, rupiah menguat ke level 9.390 per dolar AS, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (11/11).
Terangkatnya rupiah juga didukung Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 21,92 poin (0,92%) menjadi 2.403,88. Hal ini menandakan terjadinya capital inflow sehingga likuidtas dolar AS berlimpah di pasar domestik. Rupiah pun menguat, ucapnya.
Menurut Tony, sebenarnya tidak ada hal-hal dari fundamental ekonomi domestik yang bisa mengangkat rupiah. Pasalnya, jika dilihat dari kisruh hukum antara Polri dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seharusnya membuat rupiah melemah.
Tapi karena dolar AS melemah terhadap semua mata uang utama, rupiah terbawa arus penguatan. Terhadap euro, dolar AS melemah ke level US$ 1,3700, pungkasnya.
Sementara itu, hingga awal tahun depan, The Fed Rate belum tentu dinaikkan, tergantung recovery perekonomian AS. Kondisi ini pun memicu pelaku pasar meninggalkan dolar AS sebagai safe haven dan beralih ke aset-aset di negara-negara berkembang.
Mereka mencari return yang lebih tinggi meskipun riskonya juga tinggi termasuk menyimpan aset investasinya di Indonesia, ujarnya.
Daya tarik Indonesia berasal dari suku bunga acuan yang masih cukup tinggi di level 6,5%, dan diprediksikan terus naik secara bertahap seiring pemulihan ekonomi. PDB Indonesia kuartal tiga di angka 3,87% pun bisa menjadi pemicu rasa percaya diri pasar untuk menanamkan modalnya di Indonesia dalam jangka panjang.
Nilai tukar rupiah sore ini terpantau ditransaksikan pada level 8.753 terhadap dolar Australia, di angka 14.113 terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro) dan 6.788 terhadap dolar Singapura.
Sementara itu, mata uang kawasan mendominasi penguatan terhadap dolar AS. Hanya dua mata uang yang melemah. Yen Jepang terkoreksi 0,09% menjadi 89.894 dan dolar Australia melemah 0,11% ke level 0.931 per dolar AS.
Selebihnya mata uang kawasan menguat. Dolar Hong Kong naik 0,0003% ke angka 7.750, dolar New Zealand terangkat 0,23% ke posisi 0.741, dolar Singapura menggeliat 0,09% menjadi 1.386, dan dolar Taiwan bangkit 0,16% terhadap dolar AS ke level 32.292.
Begitu juga dengan won Korsel yang menanjak 0,34% ke angka 1.157, peso Filipina terapresiasi 0,41% ke posisi 46.712, rupee India terdongkrak 0,18% menjadi 46.400, yuan China merambat naik 0,008% ke level 6.826, ringgit Malaysia meroket 0,23% ke angka 3.377, dan baht Thailand melonjak 0,14% ke posisi 33.305 per dolar AS. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.