INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah Kamis (12/11) masih berpotensi menguat akibat tertekannya dolar AS. Namun, kemungkinan pemburukan ekonomi Eropa berpeluang membuat dolar berbalik arah.
Analis valas dari bank asing Widhiatmiko mengatakan, rupiah kemarin berhasil menguat, akibat pelemahan dolar di pasar eksternal. Ia pun memprediksikan kenaikan ini akan berlanjut hari ini.
Apalagi pasar New York libur yang mengindikasikan bahwa dolar masih akan melemah. Rupiah akan bergerak di kisaran 9.400-9.450 per dolar AS, katanya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, ada potensi dolar rebound hingga akhir pekan ini. Pemicunya berasal dari kekhawatiran pasar akan pemulihan ekonomi Eropa, menyusul potensi penurunan rating kredit Inggris oleh lembaga pemeringkat Fitch. Dolar yang menjadi aset safe haven, menekan pergerakan euro dan sterling. Hal ini tentunya akan berdampak pada perdagangan valas, ujarnya.
Namun, lanjut Widhiatmiko, imbasnya terhadap rupiah sebenarnya sedikit, mengingat suku bunga yang masih tinggi, terutama Indonesia. Daya tarik BI rate masih akan mengikat aliran dana yang keluar dari Asia.
Apalagi BI rate akan naik lagi awal 2010, seiring tekanan inflasi menyusul pertumbuhan ekonomi. Ia pun menyarankan BI untuk menyesuaikan suku bunganya, tidak perlu menunggu aksi The Fed menaikkan suku bunganya. Karena saat itu terjadi, ada penarikan dolar ke AS, paparnya.
Menurutnya, pelemahan dolar AS masih bisa berlanjut hingga akhir tahun. The Fed diperkirakan belum menaikkan suku bunga, mengingat data penganggguran AS yang lebih dari 10%. Menaikkan tingkat bunga saat-saat ini sangatlah berisiko, ujarnya.
Widhiatmiko berharap, apresiasi rupiah tidak dibatasi dengan pernyataan-pernyataan negatif, sepeti produk Indonesia akan kesulitan bersaing dengan kompetitor. Pasalnya, ada kepemilikan asing yang cukup besar di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan obligasi. Sehingga, kalau asing keluar akan menyebabkan tekanan besar pada rupiah, tandasnya.
Demikian pula BI harus menjaga agar penguatan rupiah ini tidak terjadi terlalu cepat. Artinya, BI harus mencermati, selain stabilitas juga laju penguatan rupiah. Salah satu cara menjaga fluktuasi rupiah adalah dengan menjual dolarnya dari cadangan devisa.
Adapun cadangan devisa ini diperoleh melalui belanja dolar AS, yang dilakukan ketika mata uang AS ini melemah. Ini berarti, momen merosotnya dolar juga menguntungkan BI, terutama untuk menumpuk cadangan devisa. timpalnya.
Hal senada juga diungkapkan Tony Mariano, analis valas Harvest International Futures yang memperkirakan rupiah hari ini akan menguat, seiring pelemahan dolar AS. Selain ditopang bursa regional dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diekspektasikan positif. Rupiah akan bergerak pada kisaran 9.350-9.470, paparnya.
Lebih jauh Tony mengatakan, selama suku bunga AS masih rendah di level 0-0,25%, dolar AS akan cenderung melemah. Penguatan suku bunga The Fed diperkirakan Tony baru terjadi pada 2010. Meskipun, belum tentu juga akan dinaikan awal tahun depan karena tergantung perkembangan ekonomi, ujarnya.
Menurutnya, menjelang akhir tahun biasanya rupiah mendapat ancaman profit taking pelaku pasar secara umum dan juga korporasi. Apalagi, penguatan indeks saham dan rupiah sudah cukup besar. Semua pelaku pasar biasanya mengambil posisi untuk mengamankan asetnya, tambahnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (11/11) menguat 40 poin (0,424%) terhadap dolar AS menjadi 9.390/9.400. [ast/mdr]