INILAH.COM, Putra Jaya - Indonesia dan Malaysia harus bekerjasama memanfaatkan kesempatan dalam pertumbuhan ekonomi dunia terutama di Asia Tengah sehingga menjadi kekuatan ekonomi baru.
Hal itu dikatakan Presiden Yudhoyono dalam jumpa pers bersama dengan PM Malaysia Datok Sri Mohammad Najib bin Tun Abdul Razak usai pertemuan bilateral kedua kepala pemerintahan, Kamis (12/11). "Saya kira Asia Tengah tumbuh menjadi kekuatan ekonomi global, termasuk Asia Tenggara, oleh karena itu sepantasnya Indonesia dan Malaysia mengambil peran, berprakarsa bagi pertumbuhan perkonomian di kawasan ini," katanya.
Menurut Presiden, jika ekonomi Indonesia dan Malaysia disatukan, maka akan menghasilkan kekuatan ekonomi yang kuat, yang bermanfaat bagi peningkatan ekonomi kedua negara. "Kami berdiskusi dan sependapat bahwa ekonomi Indonesia yang terus tumbuh dengan pasar domestik yang kian membesar, demikian juga pasar malaysia yang positif. Apabila dapat kita integrasikan, sinergikan maka akan banyak yang akan kami lakukan, dalam hubungan kerja sama bilateral," katanya.
Dikatakan Presiden, sudah banyak kerjasama ekonomi kedua negara yang telah terjalin, namun upaya itu harus terus ditingkatkan untuk terus mengembangkan ekonomi di kawasan Asia Tenggara, sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi kedua negara.
Sementara itu, PM Najib menyetujui proses integrasi ekonomi kedua negara bukan saja dalam bidang perdagangan bilateral yang semakin meningkat tetapi juga di bidang investasi kedua negara. "Kami yakin bahwa hubungan dagang akan terus meningkat dan kami juga menganggap bahwa lebih ramai pihak Indonesia akan berinvestasi di Malaysia serta inisiatif Presiden Yudhoyono dalam mencanangkan program 'food security' dimana kita bisa investasi dalam kawasan yang luas dan tenaga kerja yang besar," jelasnya.
Dalam kesempatan yang berbeda di hadapan sekitar 200 pebisnis Malaysia, Presiden Yudhoyono mengatakan bahwa Indonesia dan Malaysia harus memetik pelajaran dari krisis global yang masuki era baru tatanan ekonomi yang baru, termasuk arsitektur ekonomi global yang aman. "Di samping peran Asean, saya setuju dengan PM Malaysia untuk tidak menyia-nyiakan peluang ini," katanya.
Dalam pertemuan yang digelar di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC) itu, Presiden Yudhoyono juga menjelaskan rencana lima tahun pembangunan Indonesia yang membutuhkan dana sekitar 150 - 200 miliar dolar AS per tahun untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi minimal 7 persen pada 2014.
Presiden menawarkan sejumlah proyek terutama di bidang agriculture, pembangkit listrik kepada para pengusaha Malaysia itu, baik melalui kerjasama pihak swasta ataupun swasta dengan pemerintah Indonesia. "Saya undang kerjasama investasi dalam revitalisasi pertanian dan revitalisasi pabrik pupuk serta gula, begitu juga untuk manufaktur. Kami mengundang untuk kerjasama sektor swasta ataupun pemerintah," tuturnya. [*/hid]