inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Robert Enke, Kisah Tragis Calon Kiper No 1 Jerman

Headline
Robert Enke - gettyimage
Oleh:
Kamis, 12 November 2009 | 23:10 WIB
INILAH.COM, Hannover Siapa sangka jika kiper tim nasional Jerman Robert Enke yang diprediksikan akan menjadi kiper nomor satu tim Panzer di Piala Dunia 2010, akhirnya tewas karena bunuh diri.
Ironisnya, Enke mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan dirinya kea rah kereta super cepat jalur Hannover- Bremen, hanya 200 meter dari makam anak perempuan tercintanya, Lara yang meninggal karena kelainan di jaringan tubuhnya.
Sepak bola Jerman tengah berduka, Bundesliga kehilangan seorang kiper yang andal, cekatan yang mampu menahan serangan tim lawan. Enke yang lahir 24 Agustus 1977, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-32.
Enke bermain di beberapa klub papan atas Eropa, termasuk Barcelona, Benfica dan Fenerbahce, tapi hampir seluruh kariernya dihabiskan untuk klub kota kelahirannya, Hannover 96.
Tragis memang, setelah kehilangan Lara, Enke dilanda frustrasi, meski tidak mengganggu penampilannya bersama Hannover. Ketakutannya akan kehilangan anak asuhnya yang diadopsi bersama istrinya, membuat dia mengambil jalan pintas.
Enke menikah dengan Teresa dan memiliki anak perempuan, bernama Lara yang meninggal 17 September 2006 karena sindrom hati kiri. Mei 2009 mereka mengadopsi seorang bayi perempuan, Leila, dan memutuskan tinggal bersama keluarganya di pertanian kecil, hingga memutuskan bunuh diri di Empede dekat dengan Neustadt am Rubenberge.
Aksi nekad Enke ini sama sekali tidak ada yang menduga, pihak kepolisian menemukan secarik surat wasita yang ditemukan di dekat mobilnya, namun tidak akan diumumkan secara detil. Menurut Teresa, suaminya telah mengalami depresi selama enam tahun dan telah menjalani perawatan oleh seorang psikolog.
Enke baru delapan kali menuai caps bersama timnas Jerman antara tahun 2007-2009, menjelang kematiannya. Enke juga menjadi bagian tim Jerman ketika menjadi runners up EURO 2008. Padahal sebelum bunuh diri, Enke digadang-gadang oleh pelatih Jerman Joachim Loew menjadi kiper nomor satu Jerman di Afrika Selatan.
Mengawali kariernya bersama klub kota kelahirannya, Carl Zeiss Jena dan mulai menuai skuad utama musim 1995-1996, Enke memulai debut profesionalnya 11 November 1995 melawan klubnya terakhir, Hannover 96 di Bundesliga 2.
Enke setelah itu pindah ke Borussia Monchengladbach, tahun 1996, dan menuai dua musim di tim U-23. Kesempatannya datang ketika memasuki musim 1998-1999, ketika kiper legendaris klub tersebut, Uwe Kamps mengalami cedera dan pelatih Freidel Raushc member kesempatan Enka untuk menuai debutnya.
Debut pertamanya di Bundesliga ketika melawan Schalke 04 dimana Moenchengladbach menang 3-0, 15 Agustus dan membuat mereka berada di puncak klasemen. Namun posisi itu berubah drastic, terlepas dari permainan cemerlang Enke.
Setelah memperkuat Moenchengladbach, Enke pindah ke Benfica Portugal. Klub yang ditangani oleh pelatih asal Jerman, Jupp Heynckes yang akhirnya mempromosikan dia menjadi kapten. Sayangnya, Benfica dilanda masalah, dalam tiga musim, tiga kali pergantian pelatih dan dilanda masalah keuangan yang membuat gaji pemain tertunda.
Terlepas dari masalah itu, penampilan Enke tetap menjadi andalan, dimana beberapa klub seperti Arsenal, Atletico Madrid, dan Manchester United mengincar dia. Setelah pembicaraan kontrak dengan Benfica mandeg, Enke pindah ke Barcelona dengan status bebas transfer, Juni 2002.
Hidup di Camp Nou, terasa berat bagi Enke, dia mendapat julukan di Barca, sebagai kiper yang paling sulit untuk ditaklukkan di Eropa. Sayang dia kalah bersaing dengan Roberto Bonano. Debutnya memalukan ketika Barca dibantai klub Segunda Tiga Novelda CF di ajang Copa del Rey.
Karier Enke di Barca berakhir tragis, Enke dipinjamkan ke Fenerbache Turki, namun sial ketika kalah dari Istanbulspor 3-0, Enke dilempari dengan kembang api dan botol selama pertandingan. Hal inilah yang membuat Enke memutuskan untuk kembali ke Spanyol.
Setelah itu, Enke dipinjamkan ke klub Segunda Dua, Tenerife yang kini bermain di La Liga Primer, dan langsung menuai pujian dari fans klubnya. Menyusul penampilan cemerlangnya bersama Tenerife, Enke kembali ke Bundesliga bergabung dengan Hannover 96, Juli 2005, dengan status bebas transfer.
Kariernya kembali moncer dan menjadi kiper utama, dan terpilih sebagai kiper terbaik Bundesliga, oleh rekan-rekan profesionalnya di majalah Kicker.
Sempat dikabarkan akan pindah ke klub yang lebih besar, khususnya Vfb Stuttgart, Desember 2006 akhirnya Enke mengakhiri spekulasi dengan memperpanjang kontraknya hingga akhir musim 2009-2010.
Enke terpilih sebagai kapten oleh rekan satu timnya musim 2007-2008, dan posisi ini akan dia pertahankan hingga akhir kariernya. Enke meraih gelar kiper terbaik Bundesliga musim 2008-2009, namun depresi membuatnya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.[-]
Rest in Peace, Enke!
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.