inovasi portal berita
Kamis, 23 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.9,059.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Menilik Akal-akalan PSSI

Perbedaan Konsep IPL Vs ISL

Headline
Oleh:
Minggu, 27 November 2011 | 12:37 WIB

Konsep IPL yaitu Liga Indonesia berada dalam satu perusahaan (konsorsium), jadi semua klub dibiayai konsorsium, dengan konsekuensi hasil tiket, hak siar dan lain-lain masuk ke PSSI (konsorsium, red).

Ini yang mendasari kenapa saham 70% ke Djohar, 30% ke Faried. Hal ini sudah berjalan pada kompetisi LPI musim lalu, namun bisa dikatakan musim lalu adalah proyek rugi, kenapa?

Dengan jumlah uang miliaran rupiah yang telah dibagikan konsorsium ke 20 klub LPI musim lalu, kontrak marquee player, gaji untuk wasit asing, ternyata animo penonton untuk LPI sangat kurang. Karena sebagian besar adalah klub2 baru tanpa basis supporter yang kuat, sepi penonton, akhirnya tak laku dijual ke sponsor.

Konsep ini coba diterapkan pada musim ini, dengan kursi kepemimpinan PSSI yang sudah berada di tangan mereka, konsorsium mencoba menerapkan konsep tersebut di kompetisi musim ini, tapi terbentur dengan keberadaan klub-klub besar yang sudah berpuluh tahun berdiri.

Kenapa? Karena klub-klub itu sudah bisa mendapatkan sponsor sendiri, tanpa perlu bantuan konsorsium. Akhirnya segala cara coba ditempuh PSSI di antaranya,

1. Menggemukan kompetisi menjadi 36 dan setelah banyak mendapat protes menjadi 24, kenapa kok gak 18 tim aja, sesuai statuta? Ya karena dari 18 tim ISL musim lalu, sebagian besar bukan 'tim nya konsorsium' artinya nggak balik modal. Akhirnya ditambahlah 6 tim siluman itu, yang notabene 'timnya konsorsium', atau pesan sponsor.

2. Memergerkan tim-tim LPI dengan ISL, contoh Jakarta FC dengan Persija, ini bisa dikatakan take over secara halus, karena kita tahu potensi besar Persija dengan The Jak Mania nya.

Beberapa klub berhasil melawan, hasilnya apa? Timbulah dualisme, Persebaya 1927-Persebaya Wisnu, Arema M Nuh-Arema Rendra, Persija (Jakarta FC)-Persija Paulus, PSMS IPL-PSMS ISL dan hampir saja timbul Persib 1933. Klub2 di atas adalah klub-klub besar dengan basis supporter yang kuat, bisa dibayangkan keuntungan yang didapat oleh konsorsium?

Tidak ada yang salah dengan konsep konsorsium tersebut, dengan syarat seluruh tim adalah timnya konsorsium, seluruh biaya dari konsorsium, dengan timbal balik, hasil tiket tidak sepenuhnya untuk klub, sebagian ke konsorsium, pembagian hak siar, sponsor dan keuntungan ke konsorsium. Tapi hal ini tidak akan bisa berjalan jika di liga tersebut hanya sebagian kecil yang mau jadi timnya konsorsium.

Sedangkan konsep ISL, klub cari uang sendiri, cari sponsor sendiri, tapi keuntungan kompetisi ya balik ke klub (99% klub, 1% PSSI) karena pada konsep ini klub lah yang berdarah-darah membiayai diri mereka sendiri. Konsep ini yang dianut sebagian besar kompetisi-kompetisi eropa.

Tidak ada yang salah dengan duakonsep itu, yang menjadi masalah adalah ketika klub-klub dengan dua konsep tersebut digabung menjadi satu kompetisi. Klub konsorsium tentu tidak masalah ketika hak siar, uang tiket, sponsor masuk ke konsorsium, karena toh mereka tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya kontrak dan operasional klub.

Tapi bagi klub-klub yang membiayai diri sendiri tentu keberatan, karena mereka membiayai diri mereka sendiri. Mau rapat 7 hari 7malam pun tidak akan ketemu titik temu.

Seandainya pun IPL dengan 24 tim berjalan, ada kemungkinan konsorsium akan berusaha membela dan mempertahankan eksistensi klub-klubnya di IPL, dan mendegradasikan klub-klub nonkonsorsium. Suatu bahaya laten.

Menurut pendapat saya pribadi, konsep ini tidak dikemukakan oleh PSSI sejak awal, sehingga timbul saling curiga. Seharusnya mereka dari awal menawarkan ide mereka kepada 18 tim yang berhak tampil di ISL.

Kalau mereka setuju maka jalanilah, Jika tidak, ya jangan dipaksakan, karena mereka duduk di kursi itu karena dipilih oleh klub-klub anggota PSSI. Yang terjadi sekarang PSSI seperti memaksakan kehendaknya, menghalalkan segala cara, tanpa menghiraukan aspirasi klub-klub anggota, akhirnya segala keputusan main tabrak sana tabrak sini.

Timbul yang namanya PSMS ke IPL karena pesan sponsor, Bontang FC ke IPL karena kasihan dikerjain wasit, dan alasan-alasan lainnya yang terlalu dibuat-buat.

Dan saya lebih setuju jika tim-timprofesional mencari sponsor sendiri, seperti di Liga-liga Eropa. Daripada pendanaan terpusat ala konsorsium. Jika Arifin Panigoro (AP) ingin memajukan sepak bola nasional, iya bisa membeli klub-klub yang sudah ada, atau mendirikan klub baru dan berjuang dari bawah.

Tidak seperti kasus Persija, Arema dan tim-tim lainnya. Dengan kekuasan PSSI, mereka seperti mengambil alih tim-tim tersebut secara paksa. Menunjuk satu orang dan mengatakan bahwa ini Arema yang sah, ini Persija yang sah. Tapi satu hal yang perlu diingat, tim-tim tersebut besar bukan karena namanya, tapi karena suporternya.

Walaupun Anda sudah merasa kuasai Arema, sudah kuasai Persija, tanpa Aremania dan The Jak Mania, tetap saja tim itu seperti Jakarta FC, Bintang Medan , dan tim-tim LPI lainnya. Tanpa penonton dan anda rugi.

Salam Olah Raga, Hekmatiar

hekmatiar@yahoo.co.id

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
49 Komentar
Pecinta Sepakbola @ Senin, 6 Februari 2012 | 20:03 WIB
apa yg di kemukakan oleh mas Hekmatiar menurut saya sudah baik, tentang IPL dulu, kalian pernah berpikir tidak, kalo IPL itu adalah liga amatir yang tidak di akui oleh PSSI, dikarenakan club" didalamnya tidak mengikuti tahap-tahap profesional liga itu sendiri, dan langsung berada di kasta paling atas liga. padahal yang seharusnya adalah club-club IPL itu seharusnya mengikuti tahap-tahap yg ada untuk selanjutnya berada di liga paling atas di Indonesia ini.dan anehnya di musim 2011/2012 ini IPL yg dahulunya di anggap ilegal oleh PSSI,skarang malah menjadi liga teratas sepakbola indonesia, yg hampir keseluruhan club nya tidak mengikuti tahap-tahap profesional liga yg semestinya.maaf, bukannya saya mengesampingkan IPL, tetapi memang kenyataanya seperti itu.Coba lihat sekarang, liga teratas yg dianggap profesional oleh PSSI ini katanya harus bebas dana APBD, buktinya bisa dilihat sendiri club-club IPL tidak ada sponsor yg melekat di baju mereka,mungkin hanya semen padang (itu yg saya tahu)hanya sponsor liga saja yg memenuhi pinggir lapangan/sedangkan sponsor club nya sendiri tidak ada.maaf,balik lagi, katanya profesional. untuk ISL: menyanggah pernyataan dari ase @ Minggu, 11 Desember 2011 | 12:10 WIB , maaf club-club tahun ini yg masih di danai oleh APBD itu club apa ya? Persib,Sriwijaya,Persipura,Persisam dll. apa sebagian club itu ataupun yg lainnya masih didanai oleh APBD. tidak mas, coba lihat aja deh, ISL adalah liga yg dianggap ilegal kali ini oleh PSSI justru mereka (club) malah semaking profesional dalam segi manajemen clubnya, terbukti dengan banyaknya sponsor-sponsor ternama melekat di baju, dan iklan di pinggir lapangan mereka. jadi menurut saya, dalam segi profesional tim-tim ISL jauh lebih profesional dari pada club-club IPL,(maaf bukannya menyinggung, tapi memang kenyataanya seperti itu),. kalo emang PSSI ingin membangun sepakbola indonesia yg lebih maju dan profesional maka ISL lah yg lebih tepat,entah apa yg ada di pikiran PSSI sekarang, sampai-sampai IPL yg dulunya dianggap ilegal, skarang malah menjadi liga dengan kasta paling atas menurut PSSI,.satu hal, masih ingat dengan kejadian rapat PSSI dirumah "Pa Arifin Panigoro", entah apa maksud PSSI ini, sampai-sampai mereka harus mengadakan rapat di rumah (AP), padahal sudah jelas bahwa kantor PSSI itu letaknya di senayan,semalam rapat dirumah Pa AP, keesokan harinya coach Rahmad Darmawan menyatakan mengundurkan diri dari pelatih timnas u-23. (ada apa ini sebenarnya). maaf apabila ada kata-kata yg menyinggung, tidak bermaksud apa-apa hanya mengemukakan pendapat saja. kalo saya di suruh pilih,lebih baik nonton IPL atau ISL, maka saya akan menjawab ISL lebih baik.
Damar Wulan @ Rabu, 18 Januari 2012 | 11:06 WIB
Tulisan hekmatiar tidak fair, karena tidak menyebut darimana dana klub-2 ISL didapat, APBD yg milyaran rupiah tetapi tanpa prestasi, parahnya banyak yg dikorupsi oleh pengurus. Pengaturan skor sudah biasa, bahkan klub mana yg akan juara di kompetisi yg berjalan pun sudah ketahuan. Memang benar apa yg bung Hekmatiar uraikan tentang konsep IPL, tetapi bung tidak menjelaskan bahwa ketika klub-2 IPL sudah bisa membiayai klubnya sendiri nantinya saham akan dikembalikan ke klub. Saya jadi curiga, bung ini orangnya Bakrie ya???????
ordo (orang bodoh) @ Rabu, 18 Januari 2012 | 10:50 WIB
Setau saya.. yg namanya PT itu pembagian keuntungan dan kerugian tergantung %tase kepemilikan saham... saya setuju dengan 99% utk club dan 1% utk PSSI krna emg club lah yg mencari dana utk pembiayaan... Tp itu akan tepat kalo Liga membawa keuntungan utk club,., tpi kalo ternyata liga membawa kerugian utk club bagaimana...?? TRUS PERTANYAAN SAYA... PERNAH GA CLUB DARI MUSIM KE MUSIM BISA MENDAPATKAN UNTUNG DGN IKUT LIGA, MINIMAL IMPAS DEH,, SEHINGGA GA ADA LAGI YG NAMANYA GAJI PEMAIN DIRAPEL 7 trus kalo ga bisa untung,, nutup kerugiannya uang dari mana...??? itu aj dari saya .. terima kasih
arfansyah @ Minggu, 15 Januari 2012 | 20:06 WIB
tolong jgn pentingkan politik, pentingkan persepak bolaan indonesia. jagan pentingkan uang, tapi pentingkan jasa
LanLan @ Rabu, 4 Januari 2012 | 21:07 WIB
gg mudeng :( .. sedih kalo jadinya carut mawut kaya gini...
dd @ Rabu, 28 Desember 2011 | 21:55 WIB
Sebenarnya mau IPL atw ISL sama saja,,, Sama2 kacau. keduanya sama2 politik, kaga mikirin sepak bola nasional.
Endonesia @ Rabu, 28 Desember 2011 | 09:19 WIB
good..good...emang sebenernya dr dulu konsep IPL itu tdk menguntungkan klub....
morti @ Rabu, 28 Desember 2011 | 09:10 WIB
mw bikin klub sendiri? walaupun barcelona pindah ke indo,g bakaln 2000% juara klo wasitnya aj bs d suap, skor pertndingan bs d atur.....
lady gagu @ Jumat, 16 Desember 2011 | 14:51 WIB
Yang punya inilah.com bukan keluarga bakrie mas, tapi anteknya bakrie. muchlis hasyim mantan anggota dewan pakar PSSI rezim nurdin.
juragan @ Kamis, 15 Desember 2011 | 18:46 WIB
ipl dan isl sama ngaconya, mending bubar aja,
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.