INILAH.COM, Jakarta - Ada perubahan dengan siklus banjir di Jakarta. Biasanya, banjir besar akan datang pada siklus empat tahunan. Sekarang jadi dua tahunan.
Hal ini diungkapkan oleh Kabag Humas Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Edison Gurning. Kepada INILAH.COM, Edison mengatakan, ini terjadi karena daerah resapan di Jakarta masih kurang.
''Daerah resapan untuk menampung banjir di Jakarta masih sangat kurang. Sehingga, hujan kecil saja sudah bisa jadi banjir, ujar Edison Gurning kepada INILAH.COM melalui telepon.
Menurut prediksi mingguan BMG, sebenarnya siklus banjir besar bukan sekedar lima tahunan. Saat ini, siklus itu telah berubah menjadi dua tahunan dikarenakan kurangnya daerah resapan tersebut.
Untuk mengatasi hal itu, kata Edison, setidaknya Jakarta membutuhkan daerah resapan sebesar 30 persen dari seluruh luas wilayahnya.
Sementara, data dari Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta menyebutkan bahwa penyusutan daerah resapan air, baik berupa situ maupun ruang terbuka hijau, telah menyebabkan dari dua juta per meter kubik air hujan yang turun di Jakarta tiap tahun, hanya 26,6 persen yang terserap dalam tanah.
Sementara itu, sisanya, 73,4 persen, menjadi air larian (run off) yang berpotensi menimbulkan banjir.
Sebelum terjadi banjir, menurut Edison, sebagai tindakan mitigasi agar tidak tumpang tindih, hasil rilis BMKG harusnya segera ditindaklanjuti oleh Dinas Pekerjaan Umum Pemprov DKI Jakarta.[ali/ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !