INILAH.COM, Jakarta - Perubahan iklim di Jakarta menjadi tidak menentu. Akan sering terjadi perubahan cuaca yang radikal. Dari panas yang menyengat, seketika menjadi hujan deras.
Hal ini diungkapkan oleh Direktur Walhi Jakarta, Ubaidillah, Jumat (13/11). Menurut Ubaidillah, perubahan radikal ini dikarenakan pembangunan yang berorientasi pada komersial. Sehingga, yang terjadi adalah pengurangan ruang terbuka hijau (RTH).
Padahal, menurut klaim permerintah DKI Jakarta pada 2007, RTH yang terdapat di Jakarta ada 9% dari 656 km2 seluruh luas Jakarta. Padahal, menurut penelitian Walhi Jakarta, luas RTH itu tidak lebih dari 7%.
Target pemerintah DKI Jakarta hanya menciptakan RTH 13% pada 2010. Padahal, dalam Undang-undang No. 26 Tahun 2007, target terciptannya RTH adalah 30%.
Menurut Ubaidillah, jika hal itu tidak segera terwujud, maka 10% wilayah DKI bisa tergenang banjir. Ditambah lagi, saat ini ada penurunan lahan di DKI akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan.
Sebagai langkah antisipasi untuk mencari solusi mengurangi banjir di DKI, pemprov DKI didorong untuk tidak ada lagi
membebaskan lahan-lahan untuk komersial dan bangunan.
Selain itu, harus ada perbaikan sistem drainase, normalisasi kali, dan percepatan pembangunan Banjir Kanal Timur.
Namun, menurut Ubaidillah, itu semua belum memecahkan masalah banjir di DKI karena air tidak mengalir ke laut. Ini disebabkan oleh reklamasi dan alih fungsi hutan bakau.
[ali/ims]