INILAH.COM, Jakarta Kendati bergerak fluktuatif, saham PT Bumi Resources (BUMI) sepekan ini berhasil menguat 5,4%. Tarik-menarik terjadi terkait posisi ANTM dalam konsorsium akuisisi Newmont. Hari pertama perdagangan, Senin (9/11), BUMI mengawalinya melemah Rp25 ke level Rp2.300. Nilai transaksi tercatat Rp473 miliar, atau 18,2% total perdagangan. Koreksi BUMI akibat harga minyak ke level US$77 per barel. Namun, penguatan saham grup Astra mampu menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

hingga naik 0,47% ke 2.406,434.
Dalam penjelasan tertulis di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), BUMI menandatangani perjanjian perubahan atas pinjaman senilai US$ 1,9 miliar dari China Investment Corporation (CIC). Dalam perjanjian itu, para pihak sepakat mengubah ketentuan bahwa anak perusahaan BUMI, Bumi Netherlands BV, bertindak sebagai debitor. Sedangkan BUMI bertindak sebagai penjamin.
Pelemahan BUMI masih berlanjut keesokan harinya, dengan anjlok Rp150 ke Rp2.150. Emiten batubara ini menyeret turun IHSG lebih dari 1% di tengah lonjakan indeks bursa global. Terutama karena dominasi BUMI di lantai bursa.
Dengan nilai transaksi Rp1,143 triliun per lembarnya, BUMI mengkontribusi 33,9% total perdagangan yang mencapai Rp 3,372 triliun. BUMI memperburuk sentimen pasar karena sebagian besar likuiditas terkonsentrasi di sejumlah saham Bakrie.
Tekanan jual terjadi pada BUMI, menyusul harga minyak yang melemah di pasar Asia, setelah pada perdagangan Nymex ditutup menguat ke US$79,43 per barel. Selain adanya kekhawatiran atas rencana perseroan menerbitkan obligasi US$ 300 juta.
Seperti diketahui, BUMI hanya berhasil menerbitkan obligasi US$300juta (dari target maksimal US$500juta) berjangka waktu 7 tahun senilai US$300 juta pada 13 November dan jatuh tempo pada 10 November 2016. Obligasi ini bertingkat bunga 12% per tahun, dengan kupon yang dibayar 2 kali setahun pada 10 Mei dan 10 November.
Minimnya permintaan atas obligasi BUMI disebabkan memburuknya kondisi pasar glonal akhir pekan lalu. Selain banjirnya penerbitan obligasi di pasar internasional Oktober silam. Pembeli obligasi BUMI berasal dari AS, Asia dan Eropa masing-masing 37%, 33%, dan 30%. Investor global mulai tidak percaya pada kemampuan BUMI melunasi kewajibannya.
Beberapa bulan sebelumnya, BUMI juga menerbitkan surat hutang yang dibeli CIC sebesar US$1,9M dengan yield 19% (kupon 12%). Kini obligasi 7 tahun tidak dijelaskan berapa yieldnya. Tetapi, kenapa ada selisih yield untuk obligasi US$1,9M dan obligasi US$300juta sangat besar. Ini dapat menimbulkan berbagai tafsir. Namun, memasuki Rabu (11/11), BUMI kembali bangkit dan memimpin penguatan bursa. BUMI memberi sentimen positif pergerakan saham tambang dan saham grup Bakrie lainnya. Sektor tambang memimpin penguatan dengan naik 4,11%.
BUMI naik Rp 275 (12,79%) menjadi Rp 2.425, dengan nilai transaksi Rp 1,5 triliun, atau 33,5% total perdagangan Rp 4,482 triliun. Hal ini terjadi setelah PT Aneka Tambang (ANTM) membatalkan keikutsertaannya dalam konsorsium pembalian 14% saham Newmont Nusa Tenggara (NNT). Hal ini menunjukkan potensi Multicapital, anak usaha BUMI, menguasai saham divestasi Newmont.
BUMI juga akan menginvestasikan US$ 211 juta untuk proyek Herald Resources, dari dana hasil penerbitan obligasi perseroan pekan lalu sebesar US$ 300 juta. Proyek Herald (tambang timah hitam dan seng) terletak di Dairi, Sumatera. Pada proyek tersebut terdapat aset bijih besi terbesar yang belum dieksplorasi dan masih sangat berpotensi untuk dikembangkan.
Sebelumnya, Calipso Investment Pte Ltd, anak usaha BUMI, memastikan untuk menguasai 98,39% saham Herald Resources. Di sisi lain, BUMI menargetkan mampu meraup laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) hingga US$ 200 juta dari investasi itu.
Pada Kamis (12/11), BUMI kembali berbalik arah dan turun Rp25 ke Rp2.400. Koreksi saham BUMI mendominasi perdagangan, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,867 triliun. BUMI sendiri terpantau melemah Rp25 (1,03%) ke level Rp2.400 per lembarnya.
Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berkeinginan porsi saham PT Newmont Nusa Tenggara (Newmont) bisa dimiliki ANTM. Adapun ANTM mengundurkan diri dari konsorsium karena porsi saham yang diinginkan sebesar 15,5% atau 50% dari total saham divestasi 31%, tidak disepakati kedua pihak. Pemda NTB menawarkan jatah Pemda 25%, Antam dan Multicapital masing-masing 37,5%.
Namun, BUMI berhasil menutup pekan ini dan naik Rp50 ke level Rp2.450. Nliai transaksi Rp525 miliar,atau 18,3% total perdagangan sebesar Rp 2.868 triliun.
Harga minyak di pasar Asia yang kembali naik 0,29% ke level US$76,94 per barel. Sektor tambang memimpin bursa dengan naik 1,6%.
Investor mengaitkan kemungkinan perolehan saham di NNT dengan prospek BUMI. Multicapital diberi waktu hingga 16 November 2009 untuk membayar tunai 10% saham senilai US$391juta. Bila Multicapital tidak melunasinya hari tersebut, maka NNT berhak menjual sahamnya kepada pihak lainnya.[mdr]