Sabtu, 26 Mei 2012 | 18:53 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Hujan Meteor Akan Mempesona Bumi
Headline
istimewa
Oleh:
web - Minggu, 15 November 2009 | 09:09 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta - Para ahli memprediksi puncak hujan meteorid akan terjadi pada 17 November. Hujan meteor Leonid, akan menyiram bumi dengan 30-300 bintang jatuh tiap satu jam, tergantung tempat yang tepat untuk melihat.

Puncak hujan Leonids akan terlihat jelas bagi pengamat di Amerika Utara dan Eropa.
Di daerah tersebut, pengamat disarankan untuk jauh dari lampu kota pada jam 2-4 pagi tanggal 17 waktu AS. Hujan meteor akan terlihat 30-50 meteor per jam.

Tetapi di Asia, puncak terjadi pada saat subuh, sehingga pengamat berkesempatan lebih besar.

"Berkat kemajuan komputer, sejak 1990-an kita telah mampu meramalkan aktivitas ini," kata William Cooke, kepala Kantor Lingkungan Hidup Meteor NASA.

"Tahun ini ada akan menjadi puncak ledakan Leonid, di mana jumlahnya hingga 300 per jam," kata Cooke.

Fenomena itu disebut Leonids karena memancar dari konstelasi Leo si singa, yang naik di atas cakrawala timur laut jam 1 sampai jam 3 tergantung dari lokasi.

Seperti hujan meteor lain, Perseids dan Orionids, Leonids meninggalkan jejak di belakang komet yang mengorbit matahari.

Ketika sebuah komet mendekati matahari, es yang mencair mengeluarkan potongan debu yang lebih besar dari butiran pasir. Saat melintasi bumi setiap tahun, komet terbakar di atmosfer.

Ilmuwan menyebut Leonid seperti bintang rock yang temperamental. Kebanyakan hanya mengeluarkan sedikit penampakan 15 bintang jatuh dalam satu jam.

Namun, dalam tahun lainnya, tiba-tiba bisa meletus Leonids sebagai badai meteor yang spektakuler, dengan tingkat lebih dari seribu meteor per jam.

Itu karena jejak puing-puing komet yang menciptakan Leonids tidak merata. Orangtua komet, Tempel-Tuttle, mendekati matahari setiap 33 tahun dan meninggalkan gumpalan bahan segar.

"Dalam kasus-kasus luar biasa, bumi akan menyelam di dekat komet, dan penampakannya akan benar-benar astronomis," kata Geza Gyuk, seorang astronom di Planetarium Adler di Chicago.

Seperti hujan Leonids pada 1833, misalnya, sebanyak seratus ribu meteor per jam, setara dengan rata-rata 30 meteor per detik, kata Gyuk.

Untuk 2009, para ahli meramalkan Leonids lebih moderat namun awan selebar 100.000 kilometer yang terbuat dari puing-puing akan terbentuk seperti pada 1467 dan 1533.

Seperti halnya hujan meteor, Anda tidak perlu peralatan optik mahal untuk menikmati pertunjukan itu, tambah Cooke.

"Cara terbaik adalah dengan menggunakan mata telanjang sehingga dapat menerima sebanyak mungkin dari langit," katanya.

"Cukup berbaring, mempersenjatai diri dengan selimut hangat dan cokelat panas, dan hanya melihat lurus ke atas."[ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.