INILAH.COM, Jakarta - Penjualan saham PT Mobile-8 Tbk (FREN) kepada investor termasuk kepada perusahaan di bawah Sinarmas Grup, diharapkan bisa mengembangkan bisnis FREN ke depan.
"Bisnis Mobile-8 ke depan tergantung dari pemilik yang baru untuk memasukkan dana ke Mobile-8," ujar kepala riset PT Financorpindo Nusa Edwin Sebayang, saat dihubungi INILAH.COM, Minggu (15/11).
Edwin mengatakan, seharusnya pemilik baru FREN bisa mengembangkan perseroan lebih baik lagi. Selain itu penambahan dana juga penting mengingat secara fundamental perusahaan tidak begitu baik. "Tergantung injeksi dana oleh pemilik baru untuk mengembangkan bisnis FREN ke depan,"tambah Edwin.
Sementara analis PT BNI Securities Akhmad Nurcahyadi mengatakan, penjualan saham Mobile-8 ke Sinarmas Grup diharapkan bisa memberikan sebuah harapan baru untuk perseroan.
Menurut Akhmad, ke depan perusahaan telekomunikasi yang akan bertahan adalah yang mempunyai infrastruktur terbanyak dan coverage jaringan yang terluas. "Peluang Mobile-8 untuk maju 50-50. Sektor telekomunikasi akan balik kepada jaringan, infrastruktur tertinggi dan coverage yang terluas, kalau tidak mempunyai itu percuma saja," kata Akhmad, Rabu kemarin (11/11).
Sedangkan dari segi saham, Edwin menjelaskan FREN tidak terlalu likuid di pasar saham ditambah lagi secara fundamental perusahaan tidak bagus karena laporan keuangan yang tidak begitu baik. Menurut Edwin, sebaiknya saham FREN dihindari dulu. "Kita tunggu kinerja FREN setelah dipegang pemilik baru," kata Edwin.
Seperti diketahui, PT Global Mediacom Tbk (BMTR) menjual saham mobile-8 sebesar 19% ke beberapa investor, salah satunya PT Gerbang Mas Tunggal Sejahtera, perusahaan di bawah Sinarmas Grup. Direktur BMTR Handhi S.Kentjono mengatakan, BMTR telah memutuskan untuk secara bertahap keluar dari bidang telekomunikasi agar lebih fokus pada industri media.
Selain itu, pembelian saham oleh Gerbang Mas Tunggal Sejahtera untuk menjajaki sinergi antara Smart Telecom dan Mobile-8 (FREN). "Jika kelak sinergi tersebut berdampak positif untuk perusahaan maka tidak menutup kemungkinan smart akan menambah porsinya," ujar Executive Director Sinarmas grup Gandhi Sulistyanto beberapa waktu lalu. [mre/hid]