INILAH.COM, Jakarta Pergerakan IHSG pekan ini diprediksi menguat terbatas seiring positifnya fundamental ekonomi Indonesia . Sayang, kisruh KPK-Polri menghalangi agresivitas pelaku pasar.
Norico Gaman, Kepala Riset BNI Securities mengatakan, potensi penguatan indeks pekan ini karena fundamental eknomi Indonesia triwulan keempat masih positif. Selain itu, kinerja perusahaan publik yang juga menunjukkan tendensi pertumbuhan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turut diwarnai laju bursa regional.
Di sisi lain, perkembangan politik dalam negeri terkait kisruh Polri-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga mempengaruhi persepsi investasi sehingga penguatan indeks menjadi terbatas.
Indeks pekan ini akan menguji level 2.450 sebagai resistance-nya, dan 2.400 sebagai support level-nya, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (15/11) sore.
Pada perdagangan Jumat (13/11), IHSG akhirnya ditutup naik tipis 6,520 poin (0,27%) ke level 2.426,801. Indeks saham unggulan LQ 45 naik 1,255 poin (0,26%) ke level 478,203 dan indeks JII naik 0,33% ke 396.67.
Menurut Norico, investor sepekan ke depan masih belum cukup agresif untuk masuk ke bursa saham Indonesia . Karena itulah, indeks pekan ini hanya bergerak tipis pada kisaran 50 poin kecuali jika ada sentimen positif yang mendorong pelaku pasar untuk masuk ke bursa saham Indonesia . Indeks akan bervariasi tapi kisarannya akan sempit, ujarnya.
Lebih jauh ia mengatakan, perkembangan ekonomi makro di AS, sangat mempengaruhi persepsi investor di bursa regional dan berpengaruh pada pergerakan indeks domestik. Selama faktor inflasi masih terukur, dan suku bunga masih rendah akan berpengaruh posisif bagi indeks, timpalnya.
Pada saat yang sama, sentimen domestik sangat tergantung pada sikap pemerintah dalam menyelesaikan konflik yaitu kisruh hukum KPK-Polri. Dalam kaitan ini, faktor-faktor non-ekonomi pada tingkatan tertentu berpengaruh juga pada persepsi pelaku pasar untuk mengambil keputusan berinvestasi.
Artinya, persepsi pasar kadangkala terpengaruh juga dengan faktor-faktor non-fundamental ekonomi. Karena itu, investor perlu kewaspadaan dalam mengambil strategi investasinya, imbuhnya.
Adapun saham-saham yang berpeluang menjadi penggerak indeks pekan ini salah satunya adalah sektor sumber daya alam yaitu pertambangan. Lalu, sektor infrastruktur dan konsumsi juga turut mengangkat indeks. Sektor-sektor itulah yang diperkirakan mengalami potensi apresiasi apabila indeks menguat, ungkapnya.
Norico merekomendasikan saham-saham yang berfundamental baik, saham yang berencana membagikan dividen interim, dan saham yang memiliki prospek industri yang sangat menarik di masa depan.
Saham-saham pilihannya adalah PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Telkom (TLKM), PT Indo Tambang Raya Megah (ITMG), PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA), PT Adaro Energy (ADRO), PT Bumi Resources (BUMI), PT Indofood (INDF), dan PT Unilever Indonesia (UNVR). Saya rekomendasikan akumulasi beli secara bertahap untuk saham-saham tersebut, pungkasnya. [mdr]