INILAH.COM, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh meminta PT Aneka Tambang (Antam) agar tidak mundur dari akuisisi 14% saham Newmont Nusa Tenggara (NTT).
Sebelumnya, Antam menyatakan mundur dari rencana akuisisi tersebut karena tidak mencapai kata sepakat dengan Pemda Nusa Tenggara Barat (NTB). Antam menginginkan dapat menguasai 50% dari jatah. Sementara itu Pemda NTB penawarkan pembagian dimana Antam hanya akan mendapat porsi 37,5%, Bakrie (Multicapital) 37,5%, dan sisanya oleh Pemda NTB.
Jika keinginan Menteri ESDM itu diikuti Antam, maka Bakrie akan tampil sebagai pemegang mayoritas divestasi saham NNT. Sebab, sebelumnya perusahaan milik Aburizal Bakrie itu telah memiliki 7,5% saham NNT.
Ini merupakan 75% dari 10% divestasi tahap I. Dengan tambahan porsi 37,5% dari 14% disvestasi tahap II, maka total kepemilikan Bakrie dari 21% saham NNT yang didisvestasikan adalah 12,75%. Jumlahnya akan makin besar jika Bakrie juga mendapatkan jatah dari 7% dievstasi tahap III.
Karena tak ada tercapai kata sepakat, batas waktu divestasi saham NNT akhirnya diundur hingga 23 November dari sebelumnya pada 12 November. Namun para analis memperkirakan Antam akan menerima tawaran Pemda NTB.
Soalnya, nilai 14% saham NNT itu mencapai US$ 493,64 juta atau sekitar Rp 4,5 triliun. Sementara dana encer yang dimiliki Antam hanya US$ 300 juta atau sekitar Rp 2,8 triliun. Jika seluruh dana encer itu dibelanjakan saham NNT, jelas hal itu akan menganggu kas Antam.
Bakrie sendiri tentu harus mencari sumber pendanaan baru. Sebab, untuk membeli 37,5% yang bakal menjadi jatahnya, perusahaan ini paling tidak harus menyediakan dana sekitar Rp1,7 triliun. Padahal, untuk membeli 10% saham NNT, sebelumnya Bakrie telah mengeluarkan dana Rp4,36 triliun. Nah, perusahaan mana yang akan digadaikan Bakrie?