INILAH.COM, Hannover Suasana Stadion Hannover benar-benar luruh, butiran air mata berjatuhan saat penghormatan terakhir jenasah kiper tim nasional Jerman, Robert Enke yang bunuh diri dengan menabrakan dirinya ke kereta api yang tengah melaju.
Ya, calon kiper nomor satu Tim Panzer di Piala Afrika 2010 ini memutuskan mengakhiri hidupnya, setelah tidak kuat menahan beban depresi menyusul meninggalnya anak perempuannya, Lara yang baru berusia 2 tahun karena kelainan organ.
Sekitar 10 ribu fans Hannover 96 berkumpul di kandang klub kesayangan mereka untuk memberikan penghormatan terakhir bagi jenasah kiper berusia 32 tahun tersebut.
Tragis memang, di saat karier Enke tengah menanjak, dan digadang-gadang pelatih Jerman, Joachim Loew menjadi palang pintu terakhir timnya, Enke mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak lazim.
Robert Enke tidak akan pernah kembali ke stadion ini, tempat dimana dia telah menaklukkan hati kami, ujar presiden Hannover Martin King, saat dimulainya upacara penghormatan bagi Enke.
Tapi itu tidak hanya menjadi suksesnya yang membuat Robert Enke begitu popular, itulah laki-laki, dengan kepribadiannya, imbuh King, seperti dikutip dari the Daily Mail.
Enke, yang bermain untuk klub kota kelahirannya, Hannover 96, menabrakkan tubuhnya ke arah kereta api trayek Hannover-Bremen, di dekat kota kelahirannya, Selasa lalu.
Istrinya, Teresa, sehari kemudian muncul di jaringan televisi nasional dan mengatakan suaminya tercintanya sudah mengalami depresi selama enam tahun, tapi tidak ingin mengetahui hal itu.
Suasana benar-benar haru, puluhan ribu fans Hannover tak kuasa membendung air mata mereka, saat peti jenasah Enke yang ditutupi dengan mawar putih dan ditempatkan di tengah lapangan mulai dibawa keluar.
Kebanyakan mereka mengenakan pakaian hitam-hitam tanda sangat berkabung dengan scraf hijau, putih dan hitam warna kebanggaan Hannover 96.
Sebelum acara dimulai, fans berdiri dan memberikan aplaus ketika Teresa Enke berjalan mendekati peti jenasah suaminya dengan dipapah salah satu temannya. Beberapa pemain timnas Jerman juga mendekati peti jenasah untuk mengucapkan selamat tinggal pada rekan satu timnya.
Sebagai tambahan, lebih dari 45.000 fans, politisi Jerman dan semua orang dari seluruh dunia juga hadir di stadion tersebut. Bagi Jerman, kematian tragis Enke menjadi perdebatan karena para pemain sepertinya tidak mendapatkan dukungan psikologis ketika menghadapi masalah.
Teresa mengatakan, suaminya menyembunyikan depresinya dari publik, karena dia khawatir, bayi yang dia adopsi yang berumur delapan bulan akan diambil oleh pihak berwewenang jika sakitnya ini diketahui masyarakat umum.
Anak Enke dengan Teresa, Lara, meninggal tahun 2006 silam, saat masih berumur dua tahun. Selain presiden Hannover, Gubernur Lower Saxony, Christian Wuff juga berbicara di upacara tersebut, dengan menyatakan, kematian Enke seharusnya membuat orang-orang berpikir mengenai nilai-nilai social.
Kita tidak membutuhkan robot tanpa cela. Kita membutuhkan manusia dengan nilai-nilai social, dengan semua kelemahan dan kualitas mereka. Kita hanya bisa menilai betapa besar tekanan yang ada di pundaknya, ujar Wuff.
Ayah Enke, kepada majalah mingguan Spiegel mengatakan jika anaknya telah lama menderita. Dan depresi yang dialami Enke sama sekali tidak diketahui oleh rekan satu timnya ataupun pelatihnya.
Enke menjadi pemain Jerman kedua yang mengalami depresi. Gelandang Bayer Munchen, Sebastien Deisler memutuskan pensiun dari sepak bola, Januari 2007 silam setelah mengalami beberapa kali depresi dan lima kali operasi lutut.
Jenasah Enke akan dikebumikan besok, di samping makam anaknya, Lara dalam upacara kecil di dekat Neustadt, di luar Hannover, Rest in Peace, Enke![had]