INILAH.COM, Jakarta - Pernyataan pejabat BI sempat membuat saham sektor perbankan anjlok. Tetapi para analis meyakini bank sentral tak akan membuat langkah gegabah untuk menurunkan suku bunga. Kabar terhangat dari dunia perbankan hari-hari ini adalah rencana Bank Indonesia (BI) untuk menekan spread (rentang bunga) bank. Seorang analis mengatakan, rencana ini akan menjadi titik balik saham-saham perbankan, terutama bank besar.
Sebut saja PT Bank Mandiri (
BMRI), PT Bank Central Asia (
BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (
BBRI), PT Bank Negara Indonesia (
BBNI) dan PT Bank Danamon (
BDMN).
BI meminta perbankan memangkas lagi suku bunga kreditnya, katanya. Rentang antara suku bunga pinjaman dan simpanan perbankan di Indonesia memang sangat tinggi dibandingkan negara lain. BRI, misalnya, rentang bunganya sekitar 10,5%. Sementara BCA 9,5%. BNI, Danamon, dan bank lainnya berkisar 5,3-5,5%.
Bandingkan dengan bank-bank di kawasan Asia yang rentang bunganya hanya 2-3%. Jadi, jangan heran, di tengah krisis ekonomi global yang melumpuhkan sektor usaha ini, bank-bank di Indonesia masih mampu membukukan pendapatan tinggi.
Yang menjadi pertanyan, jika rencana BI untuk menekan spread jadi kenyataan, bagaimana dengan nasib saham perbankan? Inilah yang sulit ditebak.
Tetapi yang jelas, akhir pekan lalu, sejumlah saham bank mencatat penurunan harga akibat pernyataan petinggi BI. Saham BBCA, misalnya, sempat turun dari Rp4.945 menjadi Rp4.700. Sementara BBNI sempat melemah Rp70 menjadi tinggal Rp1.880. Penurunan juga sempat dialami saham BMRI, BDMN, dan BBRI.
Namun pada penutupan Senin (16/11) saham perbankan mulai bangkit. BMRI berhasil menguat Rp225 menjadi Rp4.925, BBRI menguat Rp50 ke level Rp7.500 serta BBNI juga terangkat Rp55 ke kisaran Rp2.025 per lembar.
Sementara saham BBCA masih mengalami koreksi sebesar Rp25 menjadi Rp4.725. Sedangkan harga saham BDMN masih stabil di level Rp4.450 per lembar.
Namun para analis melihat gejolak harga saham sektor perbankan ini bersifat sementara. Banyak di antara mereka yakin bahwa BI tidak akan mengambil langkah gegabah untuk menurunkan suku bunga secara cepat. Kalau langkah itu diambil. pasti akan terjadi pelarian dana, dan ini berbahaya bagi bank, kata seorang analis. [mdr]