INILAH.COM, Jakarta - Sebanyak 50% penduduk Asia yang menjalankan pengobatan menurunkan kadar kolesterol tidak berhasil mencapai sasaran tingkat kolesterol mereka.
Kenyataan ini terungkap berdasarkan survei independen CEPHEUS (Central Pan-Asian on The Undertreatment of hypercholesterolemia) yang dilakukan pada perode November 2008 hingga Juli 2009.
Survei ini mengungkapkan kurangnya tingkat kepatuhan pasien yang menjalankan terapi statin. Selain itu satu dari empat pasien meyakini bahwa lupa mengkonsumsi satu dosis obat dalam jangka waktu satu minggu atau lebih, tidak akan mempengaruhi tingkat kolesterol. Dua faktor ini kemudian dikombinasi dengan faktor risiko lainnya. Misalnya sindrom metabolik dan gaya hidup.
Dua faktor terakhir itu harus menjadi perhatian utama dokter yang menangani kelompok pasien dengan risiko penyakit jantung dan stroke.
Riset secara luas telah menunjukkan bahwa LDL-C (kolesterol jahat) adalah faktor risiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah. (Cardiovascular Disease - CVD). Uji klinik mengungkapkan bahwa terapi untuk menurunkan LDL, khususnya yang menggunakan terapi statin, menurunkan risiko CVD.
Meski demikian, walau hubungan antara tingginya kadar LDL-C dan CVD telah diketahui, tetapi mencapai target kolesterol sesuai anjuran dan tingkat kepatuhan terapi tetap menjadi tantangan bagi para dokter dan pasien.
Lebih dari 17 juta orang meninggal dunia pertahun akibat CVD. Banyaknya orang yang meninggal dunia ini menjadikan CVD sebagai salah satu penyakit yang memakan korban jiwa secara global.
Dalam skala regional. Asia memiliki populasi yang sulit ditandingi. Didorong dengan faktor risiko yang kian meningkat, terutama kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi dan diabetes, jumlah pasien yang membutuhkan terapi kardiovaskular juga ikut mengalami peningkatan. Di Indonesia prevalensi hiperkolerolemia berkisar 11%-18%.
"Separuh dari jumlah pasien yang ada tidak berhasil mencapai target LDL-C dengan tatalaksana saat ini dan lebih dari 60 % pasien yang didiagnosa oleh dokter pertama kali tidak mengalami perubahan dalam pengobatan," kata Dr. Jeong Euy Park, Koordinator Investigator Internasional CEPHEUS di Asia.
Padahal, lanjut Jeong, telah banyak bukti yang menunjukkan bahwa semakin rendah kolesterol, semakin baik dalam menurunkan risiko, apalagi jika disertai dengan perubahan gaya hidup, akan semakin menurunkan risiko terkena serangan jantung atau stroke.
CEPHEUS merupakan survei yang diikuti lebih dari 7.000 pasien dan dokter di delapan negara termasuk Indonesia, Hongkong, Korea, Malaysia, Filipina, Thailand, Taiwan dan Vietnam. Responden CEPHEUS terbatas pada pasien diatas usia 18 tahun, memiliki sedikitnya dua faktor risiko penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, merokok, rendahnya kadar HDL-C (kolesterol baik), diabetes, obesitas.
"Sebagai dokter, sebaiknya harus mampu mengedukasi, mengawasi dan memastikan pasien agar patuh mengikuti terapi yang dirancang untuk mencapai target kolesterol yang sesuai, sebagai upaya untuk mencegah terjadinya serangan jantung dan stroke. Jika dalam perawatan selama tiga bulan tidak mengalami perubahan, dokter harus mampu memberikan obat pengganti, jangan dibiarkan atau didiamkan. Karena terapi Hiperkolesterolemia tidak boleh terputus untuk mencapai sasaran kadar kolesterol yang diinginkan," kata Dr M Munawar SpJP, Koordinator Nasional penelitian dari Indonesia. [mor]