INILAH.COM, Bangkok - Saham-saham di Bursa Asia umumnya melemah pada perdagangan Selasa (17/11) akibat investor mengunci beberapa keuntungan dan anjloknya harga komoditas. Saham-saham Eropa juga anjlok. Kejatuhan saham di Asia ini bermula dari Tokyo berlanjut ke London setelah harga minyak tergelincir semalam dan dolar melemah terhadap yen. Harga emas juga turun dari level tertingginya dalam beberapa hari terakhir.
Pertemuan Presiden AS Barack Obama hari ini dengan Chinese President Hu Jintao diakhiri dengan kesepakatan, namun sepertinya tidak terpengaruh terhadap pasar.
Wall Street kemarin melesat akibat data penjualan ritel yang melebihi prediksi di Oktober 2009, meningkatkan kepercayaan pasar terhadap pemulihan ekonomi.
Namun antusiasme tersebut tidak berdampak ke Asia meskipun permintaan lebih baik untuk penjualan ritel.
Beberapa bursa Asia telah naik 70% lebih sepanjang tahun ini.
Di perdagangan Eropa, Britain's FTSE 100 turun 0,6%, Germany's DAX turun 0,3% dan France's CAC-40 melemah 0,4%.
Di Asia, Indeks Nikkei 225

Jepang rata-rata anjlok 61,25 poin (-0,6%) ke level 9.729,93, di mana ekportir terpukul dengan penguatan yen. Hang Seng

Hong Kong melemah 29,83 (-0,1%) ke level 22.914,15 setelah sempat naik di atas 23.000 dan Indeks Kospi

Korea Selatan terjun 0,4% ke level 1.585,98.
Begitu juga, dengan saham-saham acuan Australia turun 0,5% dan Singapura jatuh 0,6%. Indeks Shanghai

China naik akibat optimisme pemulihan ekonomi, naik 0,2% ke 14 pekan tertingginya di 3.282,89.
"Para investor yakin, mereka akan melihat pendapatan perusahaan yang lebih baik ke depan dengan membaiknya ekonomi negara ini," ujar Lin Feng, sebuah Fund Manager Sinolink Securities di Kota Western China, Chengdu.
Di AS, Dow naik 136,49 (1,3%) ke level 10.406,96 setelah sempat naik mendekati 164 poin. Indeks S&P 500 naik 15,82 (1,5%) ke 1.109,30.
Harga minyak Asia juga berada di bawah US$79 per barel akibat para investor melihat pertumbuhan permintaan minyak mentah tahun depan untuk mengimbangi ekonomi AS yang melempam saat ini. [cms]