inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Pujian Sekaligus Tekanan

Rayuan Maut Obama untuk China

Headline
Barack Obama - yahoo.com
Oleh: Vina Ramitha
Rabu, 18 November 2009 | 07:27 WIB
INILAH.COM, Beijing Pemerintah China dan Amerika Serikat memulai babak baru dalam lembaran hubungan bilateral kedua negara. Sukseskah rayuan maut Obama kali ini di Negeri Tirai Bambu itu?
Hubungan AS dengan China sangat penting bagi masa depan kita bersama, demikian pendapat Presiden AS Barack Obama mengenai negeri yang sedang ia kunjungi itu, Selasa (17/11). Pujian itu ia kombinasikan dengan pembahasan beberapa topik lainnya seperti mata uang, hak asasi manusia, dan Tibet.
Pembicaraan dengan Presiden China Hu Jintao pun berorientasi pada permintaan menjalin kerjasama dalam berbagai bidang. Mulai dari perubahan iklim, perekonomian, hingga beberapa isu terkait militer China yang terkadang memusingkan Washington.
Dalam pernyataan bersama, kedua pemimpin sepakat menyoroti kerjasama mereka secara kongkrit dengan mendirikan sebuah Pusat Riset Energi Bersih. Selain itu mereka juga setuju berbagi informasi intelijen dan upaya lainnya untuk menumpas terorisme dan tindak kriminal.
Kami memang memiliki kepentingan yang sama dan prospek besar untuk menjalin kerjasama dalam isu-isu besar tersebut, ujar Hu yang juga ketua partai yang sedang berkuasa, Partai Komunis.
Permohonan Obama kepada China yang terdengar sejak KTT Komunitas Ekonomi Asia Pasifik (APEC) masih berlangsung di Singapura akhir pekan lalu, adalah untuk melemahkan mata uang yuan. China langsung menolaknya, karena tak ingin neraca perdagangan mereka dengan negara lainnya menjadi minus.
Permintaan itu sehubungan dengan fakta bahwa China merupakan kreditur terbesar Amerika dan memegang surat utang senilai hampir US$800 juta. Tak kekurangan akal, Obama menyelinginya dengan menyampaikan pujian dan kekaguman terhadap Negeri Panda yang sukses selamat dari krisis global.
Kedua negara dan 19 negara anggota APEC lainnya sukses mengeluarkan pernyataan bersama untuk menstimulasi perekonomian dunia. Dengan cara menekan proteksionisme yang selama ini menjadi halangan terbesar dalam perdagangan dunia (trade barrier).
Peran China sangat besar dalam menolong dunia selamat dari krisis ini. Namun, ekonomi yang berkembang ini harus disertai dengan tanggung jawab yang besar, Obama.
Begitu China menolak membantu pemulihan AS dengan lebih banyak lagi, Obama mengeluarkan senjata rahasianya. Ia menyampaikan pendapat mengenai pelanggaran HAM yang sering dilakukan China terhadap penduduk Tibet. Terutama yang mewajibkan pemimpin spiritual daerah itu, Dalai Lama, mengungsi di wilayah India.
Amerika menerima Tibet sebagai bagian dari China, demikian ujar Obama yang kemudian menjadi headlines di beberapa media di negara tersebut. Namun demikian, beberapa media utama seperti China Views yang pro pemerintah menolak memberitakan pernyataan itu sebagai bentuk protes atas pernyataan Obama.
Tak pernah kami duga, dua setengah hari keberadaannya di China bisa mengubah begitu banyak. Meski kami banyak memiliki pro dan kontra dengan negara itu, papar Jubir Gedung Putih, Robert Gibbs.
Di akhir kunjungannya, Obama tetap meminta China memberikan peranan yang lebih besar secara internasional. Presiden AS ke-44 itu juga mencoba menyampaikan pesan bahwa hubungan dengan Amerika takkan melukai Beijing, tapi ikut membantu negara itu. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.