inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Nada Pesimistis Bermunculan

‘Bulan Madu’ Obama Berakhir?

Headline
Barack Obama - istimewa
Oleh: Vina Ramitha
Kamis, 19 November 2009 | 07:18 WIB
INILAH.COM, Jakarta Keraguan dunia terhadap kemampuan Presiden AS Barack Obama mulai bermunculan. Mulai dari kawasan Timur Tengah, hingga Amerika Selatan. Pertanda 'bulan madu' sudah berakhir?
Obama tak mampu membawa perubahan dalam kebijakan-kebijakan strategis negaranya. Amerika kini tak memiliki posisi yang kuat dan pamornya terus menurun, ujar Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, seperti dikutip Press TV, Rabu (18/11).
Sejak Obama terpilih, November tahun lalu, Ahmadinejad sudah menyampaikan keinginannya untuk mengadakan dialog bilateral. Meski Obama menyambut baik, dialog itu belum juga terwujud hingga saat ini. Bahkan, AS malah terus menekan Iran terkait program nuklir mereka yang diduga memiliki kepentingan militer.
Iran juga salah satu negara yang paling vokal dalam menyuarakan kepentingan AS dalam perundingan Israel dan Palestina yang belum juga menemui jalan tengah. Masing-masing masih saja mengajukan persyaratan dan sama-sama tidak menyetujui persyaratan pihak lainnya.
Mesir dan Menlu AS Hillary Clinton ikut menjadi mediator perundingan tersebut. Palestina, seperti dikeluhkan Israel, belum juga berkonsolidasi. Terutama antara dua faksi besar, Hamas yang menguasai Jalur Gaza dan Fatah yang mendapat dukungan AS dan menguasai Tepi Barat. Hingga kini, Barat dan AS masih menganggap Hamas sebagai kelompok teroris.
Sebaliknya, Israel juga masih ribut seputar pemukiman Yahudi ilegal yang mencomoti lahan Palestina. Obama berulangkali mengimbau agar PM Israel Benjamin Netanyahu menghentikan aktivitas itu. Setelah bersikukuh selama berbulan-bulan, Netanyahu setuju berhenti menggalakkan pemukiman baru.
Namun demikian, pemukiman lama yang berjalan sebelum imbauan Obama tetap berlanjut. Rakyat Palestina tetap tak mendapatkan apapun. Dengan demikian, tugas AS masih panjang dan sulit karena kedua negara sebenarnya enggan berdamai. Sementara keberadaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tak banyak membantu.
Selain Timur Tengah yang masih bergejolak, kawasan Amerika Latin atau Amerika Selatan juga mengungkapkan hal yang sama. Hal ini disampaikan Menlu Venezuela Nicholas Maduro yang baru saja menemui Ahmadinejad di ibukota Iran, Teheran.
Kebijakan AS di Amerika Latin paradoks dan ilegal. Mereka kerap mencampuri urusan kawasan dan menjadikannya sebagai kebijakan hegemoni, ujar Menlu Iran Manouchehr Mottaki setelah berdiskusi dengan Maduro.
Kekuatan yang paling menonjol di kawasan ini adalah Presiden Venezuela Hugo Chavez yang dikenal sebagai salah satu kritikus AS yang paling vokal. Apalagi dirinya bersahabat akrab dengan mantan pemimpin Kuba Fidel Castro, dan adiknya Raul, yang saat ini memimpin negara itu.
Menurut pengamat politik internasional, Maruja Tarre, Obama tak tertarik dengan kawasan ini. Obama tak tertarik dengan kawasan ini dan sepertinya mereka memang hanya mencari sekutu saja, terutama yang bisa menggantikan posisi mereka di Latin, ujar mantan dosen internasional di Universitas Harvard ini.
Mulanya, pilihan Presiden AS ke-44 itu jatuh ke Brasil. Namun belakangan, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva ternyata sering membela Chavez, terutama untuk alasan ekonomi. Berikutnya Meksiko, tapi ternyata tak semudah perkiraan, karena negara itu penuh dengan masalah obat-obatan dan AS sudah merogoh kocek untuk membantunya.
Sebaliknya, Meksiko sendiri selama ini cukup bijaksana untuk tidak mencampuri urusan negara lain. Sementara Honduras sedang dilanda krisis akibat Presiden Manuel Zelaya yang dikudeta militernya sendiri. Pilihan terakhir adalah Kolombia yang sedang menantikan pinangan AS untuk menjalin kerjasama bilateral.
Sayangnya Kolombia sedang bersengketa dengan Venezuela, lanjut Tarre. Hal ini menyusul dugaan suplai senjata untuk pemberontak Kolombia dari Venezuela. Aksi saling mengusir diplomat sempat terjadi beberapa bulan lalu antara kedua negara.
Di tengah kisruh itu, AS malah meminta izin Kolombia untuk menggunakan tujuh markas militer di negara itu guna memerangi lalu lintas perdagangan narkoba dan pemberontakan di kawasan. Chavez pun panas, menyiagakan militer negaranya dan bersiap perang melawan negara yang dipimpin Presiden Alvaro Uribe itu.
Aksi Obama di kawasan ini bakalan sulit dan banyak ganjalan. Publik Latin masih mencintai sosok Chavez dengan segala hegemoni anti-Amerikanya. Ia juga dekat dengan beberapa pemimpin yang rendah hati dan cenderung mengutamakan kepentingan kawasan serta tak ragu memberantas segala liberalisme. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.