INILAH.COM, Seoul Keberadaan Presiden AS Barack Obama di Korea Selatan tak dianggap main-main. Buktinya, pemerintah setempat mengerahkan 13 ribu polisi dan tentara untuk mengawal Obama. Wuih!
Selamat datang Obama, teriak sekitar tiga ribu aktivis yang memanjang di jalan-jalan dekat Kedubes AS, saat konvoi presiden Amerika itu melintas untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Lee Myung-Bak, Kamis (19/11).
Pemerintah pun mengerahkan sekitar 13 ribu polisi dan tentara untuk mengamankan kunjungan itu. Pengunjuk rasa pro-AS yang dipimpin para veteran perang dengan seragam militer membludak, mereka mengecam program senjata nuklir Korea Utara, satu isu yang tampaknya akan mendominasi perundingan puncak pemimpin kedua negara.
Puluhan bus polisi diparkir di sekeliling gedung kedutaan dan ribuan polisi anti huru-hara di tempatkan di pusat Seoul dan sekitar hotel Grand Hyatt di distrik Namsan, di mana Obama menginap.
Puluhan aktivis juga ikut meramaikan, memprotes keputusan Korsel mengirimkan tentara ke Afghanistan. Mereka menggelar aksi di luar gedung kedutaan sehari sebelum Obama tiba dalam persinggahan terakhir dalam lawatan pertamanya ke Asia.
Para pembela hak asasi manusia (HAM) lokal menyeru Obama agar terus terang menentang keras pelanggaran HAM Korea Utara. Pengamat HAM internasional yang bermarkas di New York, Human Rights Watch (HRW), juga mengimbau kedua pemimpin negara bersikap keras terhadap masalah itu.
HRW mengatakan dalam pernyataannya Rabu (18/11), bahwa para pemimpin itu hendaknya membuat komitmen kepada publik untuk mengatasi pelanggaran HAM dan arus pengungsi Korut di China. [*/vin]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !