inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Kondisi Cuaca Berawan

Hujan Meteor Kecewakan Asia

Headline
Manish Swarup
Oleh: Donny Andhika
Jumat, 20 November 2009 | 09:02 WIB
INILAH.COM, Jakarta- Ribuan stargazers (para penikmat bintang) di seluruh Asia terjaga semalaman untuk melihat hujan meteor Leonid yang deras, namun banyak yang kecewa karena kondisi berawan.

Sekitar 30 astronom amatir India melihat cahaya meteor di langit pantai Siriska, sekitar 150 kilometer selatan New Delhi.

"Tidak ada bulan di langit, kondisi yang baik untuk observasi," kata Kanu Yogeshwar Aggarwal, anggota Space Science Popularization Association of Communications and Educators. "Kita bisa melihat kilatan cahaya selama hampir 10 detik."

Meteor Leonid adalah puing-puing dari sisa komet Tempel-Tuttle yang diberi nama setelah konstelasi Leo, dari mana mereka berasal. Ilmuwan NASA telah memproyeksikan akan ada 300 meteor turun setiap jam. Di malam-malam biasanya hanya ada sekitar delapan dalam satu jam.

Angkasa sangat jernih, dan banyak meteor terlihat dari pukul empat sore, kata Suranand Supawannakij, direktur pusat ilmu pengetahuan di Rangsit, 40 km di luar Bangkok. Mereka datang dari banyak arah yang berbeda. Saya selalu senang melihat hujan meteor.

Meteor Leonid bergerak dengan kecepatan 251.000 kilometer per jam. Sebagian besar terdiri dari debu dan es, namun menguap jauh sebelum mereka mencapai tanah. "Anda dapat pergi keluar dan menonton hujan meteor Leonid tanpa khawatir akan mendarat di kepala," kata ilmuwan lingkungan meteor NASA, Bill Cooke.

Cooke berpendapat bahwa saat badai meteor Leonid pertama kali diamati pada 1833, pasti tampak seperti ramalan kiamat 2012.

Lebih dari 30.000 meteor setiap jamnya pada waktu itu menghujani bumi, memicu panik dan ketakutan tentang akhir dunia, lanjutnya.

Seorang fotografer di India, Pawan Sharma mengatakan, peristiwa tersebut sangat sebentar dan mengecewakan kami

Di Nepal awan kabut menutupi penglihatan di wilayah Himalaya. Jayanta Acharya, professor astronomi di universitas Tribhuwan Katmandu mengatakan, itu sebuah peristiwa besar dan sayang sekali kami melewatkannya.[ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.