INILAH.COM, Jakarta - Asal muasal permasalahan di Optima Kharya Capital Manajemen berawal dari pengunduran diri Direktur Utama OKCM Antonius Torang PS.
Kepada Hubungan Masyarakat Optima, Lydiawati Herdianto membeberkan, sejak masalah Optima mencuat ke publik, Antonius berkeinginan mengundurkan diri dari OKCM. Namun pengunduran dirinya tidak disetujui oleh Bapepam-LK lantaran dirinya harus menyelesaikan permasalahan yang ada di Optima terlebih dulu.
"Secara perusahaan dia boleh resign, namun Bapepam tidak setuju dan kami anggap kebijakan Bapepam itu tepat," ujar Lydia saat berbincang-bincang dengan INILAH.COM , Sabtu (21/11).
Ia pun menambahkan, pada saat kasus itu sudah membuat perusahaan kalang kabut, Antonius kabur dan otomatis sebagai pemilik Optima, Haryono Kusuma harus mengambil alih tanggungjawab Antonius. "Jadi, publik mengira Pak Haryono yang melakukan kesalahan," pungkasnya.
Bukan hanya itu saja, semenjak ditinggalkan Antonius, Polda Jabar telah melakukan 3 kali pemanggilan atas nama Antonius Torang PS. Sayang, tidak digubris. Untuk itu, pihak Optima mencari tahu dimana keberadaan Antonius.
Seketika itu juga, lanjutnya, Antonius pun berhasil diringkus oleh Polda Jabar. "Kalau tidak salah ditangkap pada kemarin lusa (Rabu, 19 November 2009)," pungkasnya.
Seperti diketahui, polisi tengah mengusut dugaan korupsi dana milik PT Kereta yang digunakan dalam kerjasama pengelolaan investasi antara PT Kereta dengan PT Optima Kharya Capital Management senilai Rp100 miliar.
Perjanjian kerja sama mulai 24 Juni hingga 24 Desember 2008 itu ditandatangani Pimpinan Direksi kedua pihak saat itu yakni Direktur Utama PT Kereta Ronny Wahyudi dan Direktur Utama PT Optima Harjono Kusuma. Juga diparaf para direktur diantaranya Direktur Keuangan PT Kereta Achmad Kuntjoro dan Direktur Personalia dan Umum PT Kereta Joko Margono. [san/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !