INILAH.COM, Jakarta- Jawaban kenapa manusia bisa saling benci belum pernah terungkap. Namun Jim Mohr dari Universitas Gonzaga telah mengembangkan metode penelitian akademik tentang kebencian.
Tujuannya adalah untuk menjelaskan kondisi yang telah dialami sejak zaman manusia gua.
Gonzaga mendirikan institut itu satu dekade lalu setelah beberapa mahasiswa jurusan hukum berkulit hitam mendapatkan ancaman. Sejak saat itu Journal of Hate Studies didirikan.
Tidak ada definisi yang tepat untuk rasa benci, Ken Stern dari Komite Yahudi Amerika berpendapat. Tidak ada teori yang meyakinkan, ia menambahkan. Stern sendiri telah menghabiskan 20 tahun dalam memerangi antisemit.
Dalam ilmu psikologi, Sigmund Freud mendefinisikan rasa benci sebagai prinsip ego yang menginginkan sumber ketidakbahagiaan untuk hancur.
Salah seorang mahasiswa yang mengikuti kuliah tentang kebencian, Kayla de Los Reyes mengatakan bahwa informasi yang dipaparkan sangat menakutkannya namun memberi harapan. Rasa benci merupakan riasan emosi manusia, ia mengatakan. [ito]