Senin, 21 Mei 2012 | 22:24 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pra-Event BEE 2009
Kiamat di Hutan Kalimantan
Headline
Istimewa
Oleh: Wisnu Guntoro
web - Sabtu, 21 November 2009 | 19:00 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Borneo Equator Expedition 2009 (BEE), olah raga off-road adventure paling ekstrim yang pernah diselanggarakan di Indonesia, bakal digelar pada 6-20 Desember mendatang di sepanjang garis katulistiwa pulau Kalimantan.

Menurut panitia, BEE 2009 akan menjadi salah satu event off-road bergensi di dunia. Beberapa nama off-roader asing dari Amerika, Australia, Eropa, Brunai dan Malaysia direncanakan ikut gelaran ini.

Ekstrim, sangat ekstrim. Di mata off-roader dunia, Kalimantan masih dianggap lintasan mematikan. Camel Trophy tahun 1985 gagal menembus Kalimantan Tengah. Ini adalah bukti ganasnya hutan Kalimantan, ungkap off-roader kawakan Syamsir Alam di sela-sela waktu konferensi pers BEE 2009 di Jakarta, Sabtu (21/11).

Syamsir yang menjabat sebagai operation director BEE 2009 menegaskan, rute tahun ini dua kali lebih panjang daripada Diplomat Challenge of Indonesia 2005 (DCI) yang melintasi Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tembus ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dan finish di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Tahun 2005 kita hanya menjelajah sekitar 1.000 km. Tapi tahun ini kurang lebih akan berjarak 2.500 km, ungkap Syamsir yang telah melakukan survey lintasan pada 10 Oktober hingga 17 November lalu.

Ungkapan Syamsir boleh jadi benar. Lintasan off-road di Kalimantan memang tergolong berat dan menantang. Setidaknya, INILAH.COM pernah merasakan ganasnya ketika mengikuti DCI 2005.

Selain rintangan di atas tanah, banyaknya alur sungai juga menjadi hambatan tersendiri. Apalagi BEE 2009 akan memotong belasan sungai dengan tingkat kelebaran dan kedalaman beragam.

Butuh teknik tinggi untuk naik dan turun ke sungai. Minimal dua puluh menit bagi off-roader yang mahir, tapi bisa juga lebih dari itu, kata Syamsir yang bersama Yuma Wiranatakesuma telah menghabiskan waktu 38 hari untuk menembus Balikpapan, Kalimantan Timur dari Pontianak, Kalimantan Tengah.

Diceritakan Syamsir, untuk menyeberang sungai akan digunakan dua perahu yang diikat jadi satu. Untuk menggunakan fasilitas milik penduduk pedalaman ini, setiap mobil peserta akan dikenakan tarif Rp 250 ribu.

Namun, kata Syamsir, tak semua sungai bisa diseberangi dengan perahu. Hanya ketika air sungai tinggi kita bisa bawa mobil pakai perahu. Nah, kalau air lagi dangkal, kita terpaksa akan memotong jalur desa, lanjutnya.

Untuk memotong jalur di desa setempat, Syamsir mengatakan, setiap mobil perlu memberi donasi minimal Rp 75 ribu. Uang itu untuk jasa orang-orang kampung yang telah membuka jalan bagi kita atau sekadar uang ganti rugi tanah adat, ucap off-roader berjuluk Crazy Sams ini.

Hambatan sungai hanyalah bagian kecil dari tantangan yang akan disuguhkan BEE 2009. Masih banyak medan mematikan yang siap menghantui mental para off-roader. Dan itu belum termasuk bila Desember nanti hujan mengguyur Kalimantan.

"Kalau hujan berarti kiamat," ucap Syamsir diselingi tawa keras.

Nah, para off-roader, bersiaplah! [GRG/Tom]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.