INILAH.COM, Jakarta - Pekan depan, The Fed akan mengumumkan hasil pertemuan November yang diperkirakan akan memberikan beberapa tanda-tanda perekonomian termasuk soal kebijakan suku bunga.
Pejabat The Fed juga menegaskan inflasi yang terjadi saat ini tidak serta-merta akan menjadi ancaman bagi proses perbaikan eknomi dan memburamkan proyeksi pertumbuhan ekonomi secara umum. Saat ini di satu sisi dan melemahnya Dolar AS secara beruntun di sisi lain, membuat kemungkinan gejolak pasar dimana akan ada perubahan arah pasar secara tajam. Kondisi yang demikian ini seiring dengan tingginya harga minyak mentah yang berpotensi memicu inflasi lebih lanjut, seperti dikutip dari sebuah situs ekonomi nasional.
Dalam pertemuan terakhir Bank Sentral AS sendiri pada 3-4 November lalu, the Fed masih menegaskan akan mempertahankan suku bunga saat ini hingga waktu lebih lama lagi.
Kondisi perdagangan saat ini menjelaskan hubungan antara Dolar AS, harga-harga komoditi dalam Dolar AS serta saham-saham, yang menjadi penanda rally akhir tahun ini akan menguat. Suku bunga hingga akhir tahun diperkirakan juga akan dipertahakankan tetap rendah.
Dolar sendiri telah menyentuh level terendahnya dalam 15 bulan ini, mendorong melejitnya harga-harga komoditas, dimana Emas mencetak harga tertingginya sepanjang masa di $1,152 per ons minggu ini.
Hal yang lepas dari semua hubungan ini adalah pergerakan harga minyak sendiri. Sejauh ini, harga minyak mentah masih bergerak pada kisaran di bawah $80 per barel dan tidak membuat kenaikan harga di 2009 secara berarti. selama ini pula harga minyak mentah telah mendorong laju inflasi sehingga membuat para pengambil kebijakan memutuskan untuk memompa likuiditas kedalam sistem keuangan mereka dan memberikan tekanan bagi proses perbaikan ekonomi.
Para pialang melihat bahwa tingginya harga komoditi dan saham saat ini di satu sisi dan melemahnya Dolar AS secara beruntun di sisi lain, membuat kemungkinan gejolak pasar yang akan ada perubahan arah pasar secara tajam. Kondisi yang demikian ini seiring dengan tingginya harga minyak mentah yang berpotensi memicu inflasi lebih lanjut.
Dolar sendiri telah menyentuh level terendahnya dalam 15 bulan ini, mendorong melejitnya harga-harga komoditas, sebab Emas mencetak harga tertingginya sepanjang masa di $1,152 per ons minggu ini. [hid]