Minggu, 27 Mei 2012 | 02:18 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Obama Pikat Kaum Muda China
Headline
Oleh: A. Dahana
web - Senin, 23 November 2009 | 10:24 WIB
KUNJUNGAN empat hari Barack Obama ke Beijing memberikan indikasi kuat mengenai peralihan kekuatan dunia dari Barat ke Asia. Atau paling tidak menunjukkan kedua kekuatan itu sudah hampir imbang.

Karenanya tak ada lagi gambaran seorang presiden negara adikuasa mendiktekan kepada tuan rumahnya tentang HAM, demokratisasi, dan soal nuklir Iran dan Korea Utara. Atau pembukaan pintu lebih lebar pasar domestik China untuk produk Amerika dan barter pelepasan tahanan politik dengan mempertahankan posisi China sebagai the most favored nation dalam hubungan dagang internasional Amerika. Atau menekan Beijing mengubah kebijakan keuangan, antara lain dengan meningkatkan kurs yuan ke nilai yang lebih

Penyebabnya sudah jelas. China adalah satu dari segelintir negara yang tak begitu terimbas krisis global. Ia juga pada dasarnya merupakan kreditor terbesar Paman Sam. Maklumlah ia mengantongi surat-surat berharga tak kurang dari US$800 miliar, berupa utang pemerintah federal AS dalam bentuk surat-surat berharga.

Sebaliknya AS masih belum bangkit kembali dari krisis. Resesi yang tampaknya belum akan berakhir telah membuatnya berada di posisi 'bawah angin'. Ditambah dengan belum tampak ada jalan keluar realistis dari perang di Irak dan Afganistan. Kelemahan AS sangat menonjol di mata China ketimbang di mata negara lain di Asia.

Padahal, salah satu tujuan dari kunjungan Obama adalah menunjukkan kepada kepada masyarakat Asia bahwa Amerika masih mempertahankan kehadiran di kawasan ini. Dan ia bakal berperan sebagai penyeimbang kebangkitan China.

Tak mengherankan kalau komentar yang disampaikan para ahli Amerika di China bernada miring dan sedikit ngeledek. Amerika punya banyak hal yang akan dimintanya dari China. Namun, ia tak punya banyak hal yang dapat ditawarkan kepada China, kata Xue Chen, peneliti masalah strategis pada Institute Kajian Internasional Shanghai.

Jin Canrong, pakar hubungan internasional Universitas Rakyat lebih 'sadis' lagi. Obama kelihatannya lebih bersedia untuk bekerjasama. Tapi, yang ada di belakang diplomasi cerdik itu tak lain dari memamerkan wajah penuh senyum, namun untuk merogoh uang dari kantung kita. Banyak negara termasuk China, tak bakal bersedia menghadapinya, kata jin.

Alhasil, buah dari kunjungan Obama ke Asia, khususnya China, tak banyak. Ia hanya meletakkan dasar bagi kehadiran kembali Amerika sebagai adikuasa di Asia. Maklumlah, citra AS telah pudar akibat kebijakan George W. Bush yang selama delapan tahun berlaga sebagai bos dunia dan menghamburkan dana ratusan miliar dolar untuk memberantas terorisme di panggung dunia.

Hasilnya, pernyataan bersama yang keluar seusai kunjungan empat hari Obama terkesan sangat umum. Isinya hanya janji bekerjasama dalam bidang ekonomi, militer, ada dialog tentang HAM, dan topik-topik besar lain seperti perubahan iklim global, 'taring nuklir' Korea Utara dan Iran, dan menangani resesi global.
Presiden China Hu Jintao sempat memberikan kuliah tentang kepentingan nasional China. Dalam pidato perpisahannya, Hu mengatakan, tiap negara harus menghormati kepentingan utama negara lain. Para pengamat menafsirkan ini sebagai peringatan bagi Amerika berhenti mendukung kemerdekaan Taiwan, menjual senjata kepada negara pulau itu, dan tak lagi mendukung perjuangan kaum Muslim Uighur.
Tapi di sisi lain kunjungan Obama secara pribadi sebagai tokoh bisa dianggap sukses. Masyarakat China, khususnya kaum muda kota, sangat mengaguminya. Ia dianggap sebagai tokoh dunia yang istimewa dengan prestasi istimewa pula. Sebagai anggota kalangan masyarakat minoritas ia berhasil menjadi presidenhal yang tak terbayangkan kalau itu terjadi di China. Di sinilah ia berhasil menebar pesona.

Ia sempat pula 'menyuntik' pikiran kaum muda China tentang demokrasi dan HAM. Pada hari pertama menginjakkan kakinya di China, ia mendapat kesempatan untuk berjumpa dengan kaum muda dan mahasiswa dalam bentuk town house meeting.

Dalam jumpa dengan kaum muda itu, ia sempat ditanya pendapatnya tentang kebebasan akses Internet. Tanpa menyinggung kebijakan pemerintah RRC yang membatasi penggunaan kontak di dunia maya, ia menjawab seyogyanya tiap individu mendapat kebebasan penuh menggunakan dan mengeskpresikan diri di internet.

Pertemuan kaum muda itu sempat membuat para penguasa China khawatir. Maklumlah, acara itu disiarkan secara terbuka. Dan setelah itu para bloggers China memuji-mujinya sebagai tokoh inspiratif.

Kesimpulannya, kunjungan Obama ke China selaku presiden tak membuahkan banyak hasil. Namun, sebagai pribadi ia mampu meninggalkan pesona di tengah masyarakat China yang sedang berubah dan cukup membuat hati para pemimpin tuan rumah kebat-kebit.

Penulis adalah Pengamat China [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.