INILAH.COM, Jakarta Kerja keras dan sikapnya yang pantang menyerah sukses mengantarnya ke posisi tertinggi di Badan Urusan Logistik (Bulog). Nasib ketahanan dan stabilitas pangan nasional pun kini ada di pundaknya.
Sutarto Alimoeso dilantik Senin (23/11) pagi sebagai Dirut Perum Bulog, menggantikan Mustafa Abubakar yang diangkat menjadi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.
Suasana pelantikan Dirut perusahaan plat merah itu pun berlangsung singkat. Sutarto langsung kembali fokus pada target kerjanya lima tahun ke depan, yaitu mencapai pengadaan beras 4 juta ton per tahun. Hingga kini, Bulog dapat melakukan pengadaan beras domestik 3,6 juta ton.
"Saya kebetulan dari bidang tanaman pangan, semoga produksi beras meningkat luar biasa 5,83%. Untuk 2010 hingga 5 tahun mendatang ditargetkan 4 juta ton per tahun untuk pengadaan beras dalam negeri," katanya di Gedung Bulog Jakarta, Senin (23/11).
Pria kelahiran 25 Juni 1949 ini pun mengatakan, dirinya akan memfokuskan kinerjanya pada program ketahanan pangan, disamping peningkatan penyaluran beras miskin (raskin). Menurutnya, pengalaman Bulog sudah mumpuni, sehingga harus all out untuk melaksanakan tugas vitalnya.
Selain menjaga ketahanan pangan nasional secara penuh melalui public service obligation (PSO), Bulog sebagai korporasi juga harus mencari keuntungan untuk bisa hidup sebagai perusahaan mandiri.
"Dari situ kita akan berbicara dengan pemerintah akan menugaskan apa. Kita semua tahu tugas Bulog, menyangkut ketahanan dan stabilitas pangan nasional. Selain itu juga sebagai pelaksana PSO raskin harus lebih ditingkatkan," ujarnya.
Kondisi ketahanan pangan di Indonesia saat ini dinilai cukup stabil. Bahkan tahun lalu, ada kenaikan stok pangan di Indonesia sebesar 4,7% dari jumlah kebutuhan pangan yang ditargetkan pemerintah. Namun, ia mencermati adanya perubahan konsumsi pangan.
Saat ini masyarakat mulai beralih mengonsumsi karbohidrat berbahan baku gandum, seperti roti dan mi instan, yang tidak dapat tumbuh di Indonesia dan harus impor dari negara lain. Padahal, bahan baku karbohidrat yang bisa menjadi makanan pokok bangsa Indonesia tersedia melimpah, seperti beras, jagung, ubi-ubian, dan sagu.
Karena itu perlu dicarikan solusi penyajian yang baik dan modifikasi dari bahan baku kebutuhan pokok tersebut agar bisa memikat masyarakat mengkonsumsinya untuk menggantikan gandum impor, paparnya.
Sutarto lahir dari keluarga besar Mbah Alimoeso. Masa kecil hingga SMA, dihabiskannya di kota kelahirannya, Pacitan, Jawa Timur. Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian UGM, tidak menuruti keinginan kakaknya, untuk menjadi seorang dokter. Ternyata pilihan itu tidak salah.
Pilihan itu menjadi berkah untuk saya dan keluarga. Bahkan kini saya dipercaya menduduki posisi strategis bagi ketahanan pangan di Indonesia yang pernah mendapat julukan negara swasembada pangan, meski pernah beberapa kali terpuruk dalam menghadapi masalah pangan, paparnya.
Lulus dari Fakultas Pertanian UGM pada 1974 dengan predikat cumlaude, Sutarto mengadu nasib ke Jakarta. Semula ia berniat bekerja di Ditjen Perkebunan, namun karena tanggapan pimpinan yang kurang bersahabat, ia pun beralih ke Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan.
Semangatnya dalam menuntaskan berbagai proyek, membuatnya dipercaya menududuki posisi sebagai Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Barat pada 1997. Namun, posisi itu hanya bertahan setahun. Sutarto kembali ditarik ke Deptan.
Kesempatan menimba ilmu, dimanfaatkannya dengan baik. Ia pun berhasil memperoleh gelar Magister Manajemen di STIE-IPWI, Jakarta. Karirnya pun terus menanjak hingga pada 2006, ia mendapat kepercayaan sebagai Direktur Jenderal Tanaman Pangan.
Terkait kesibukannya yang padat, Sutarto pun selalu menyempatkan diri bercengkrama dengan keluarganya dengan jalan-jalan, atau makan bersama di luar rumah. Suami dari Rohati ini pun mengaku demokratis dalam mendidik ketiga anaknya, Adityo Wibowo, Tita Nurahmi Kusumaningrum dan Renda Aryadi Budiharto.
Tidak ada satupun buah hatinya yang diharuskan mengikuti jejaknya sebagai PNS. Saya akan mendukung apapun keputusan anak-anak, asalkan ditekuni dengan baik, pungkasnya. [mdr]