INILAH.COM, Jakarta Pada perdagangan paruh pertama awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk ke zona negatif. Anjloknya saham BUMI dan ASII menekan pergerakan bursa. Senin (23/11) sesi siang, IHSG

terpantau melemah 13,941 poin (0,56%) ke level 2.473,424 dan indeks saham unggulan LQ 45

turun 3,267 poin (0,66%) ke 488,00. Transaksi cukup ramai dengan volume transaksi 4,289 miliar saham senilai Rp 2,299 triliun, dan frekuensi 48.786 kali. Sebanyak 50 saham naik, 88 turun dan 67 stagnan.
Semua sektor tenggelam dalam lautan merah, dengan sektor aneka industri memimpin penurunan terbesar mencapai 1,2%, disusul sektor manufaktur, tambang dam industri dasar yang terkoreksi 0,7%. Kemudian sektor infrastruktur dan finansial yang turun 0,5%, konsumsi dan perkebunan yang melemah 0,3%. Serta perdagangan dan properti yang turun 0,2%.
PT Bumi Resources (
BUMI) mendominasi pergerakan bursa, dengan nilai transaksi mencapai Rp951 miliar, atau 41,4% total perdagangan siang ini. Adapun emiten batubara ini terpantau anjlok Rp 75 ke Rp 2.750. Sedangkan saham PT Astra International (
ASII) memimpin penurunan dan berada di jajaran top loser, dengan jatuh Rp 450 ke Rp 32.800.
Analis dari Paramitra securities Uki Jaya Mahendra mengatakan, IHSG melemah karena mendapat tekanan dari pelemahan bursa Wall Street dan regional. Selain sentimen dari dalam negeri terkait pengumuman hasil audit BPK terhadap kasus aliran dana Bank Century. Pasar menunggu aksi Presiden SBY untuk segera mengambil keputusan terkait kasus tersebut sehingga dapat memberikan sentimen positif terhadap bursa, ujarnya kepada
INILAH.COM. .
Ia pun mengaku sulit memprediksi pergerakan IHSG awal pekan ini. Hal ini karena sentimen yang beredar di pasar tidak dominan. Bursa akan
mixed, antara pengaruh positif dan negatif, sehingga pasar akan sulit di tebak, Secara teknikal, indeks akan bergerak di dalam range titik
supportdi level 2467 2447 dan titik
resistance di level 2.499 2.510, katanya.
Hal senada diungkapkan David MJ. Ferdinandus, analis dari PT Indomitra Sekuritas. Ia memprediksi bahwa pergerakan IHSG akan mengalami tekanan dari pasar eksternal, baik dari pasar saham maupun rupiah. IHSG akan bergerak di kisaran 2.450 hingga 2.510, katanya.
Kendati demikian, David melihat masih ada beberapa indikator positif yang menudukung penguatan bursa. Seperti stabilnya rupiah

di level 9.500 per dolar AS serta hasil laporan keuangan kuartal tiga 2009 yang membaik. Investor masih dapat melakukan pembelian selektif atas saham-saham ini, ucapnya.
Beberapa emiten pilihannya berasal dari sektor infrastruktur seperti Telekomunikasi Indonesia (
TLKM), PT Perusahaan Gas Negara (
PGAS), Jasa Marga (
JSMR), Wijaya Karya (
WIKA).
Kemudian saham berbasis energi seperti PT Bumi Resources (
BUMI), PT TB Bukit Asam (
PTBA), Adaro (
ADRO), Elnusa (
ELSA) dan PT United Tractor (
UNTR). Investor bisa akumulasi saham-saham ini terkait prediksi membaiknya kinerja, ujarnya.
Siang ini, beberapa emiten lain yang melemah antara lain PT Adira Dinamika Multi Finance (
ADMF) turun Rp200 ke posisi Rp6.000, PT Indocement Tunggal Prakasa (
INTP) turun Rp200 ke posisi Rp11.700, PT Bank Rakyat Indonesia (
BBRI) melemah Rp 100 menjadi Rp 7.600, dan PT Unilever Indonesia (
UNVR) terkoreksi Rp 100 ke posisi Rp 11.150. [mdr]